Liputan6.com, Beijing - Zhang Lidong dan putrinya Zhang Fan menemui ajal di tangan algojo. Dua anggota sekte 'sesat' itu dieksekusi mati Provinsi Shandong, di wilayah timur China atas kasus penyerangan brutal terhadap seorang perempuan di restoran cepat saji McDonald’s.
Serangan itu terjadi pada akhir Mei 2014 lalu. Sekelompok anggota sebuah sekte -- termasuk 2 terpidana mati -- memukuli seorang perempuan hingga tewas di Zhaoyuan. Gara-gara, korban menolak memberikan nomor teleponnya. Adegan sadis itu direkam kamera ponsel, menyebar luas, dan menimbulkan kemarahan seantero negeri.
Pengadilan tingkat banding Yantai mengumumkan eksekusi tersebut di akun sosial media. "Keduanya telah melakukan pembunuhan dan menggunakan sebuah sekte untuk melanggar hukum," demikian isi pernyataan tersebut, seperti Liputan6.com kutip dari The New York Times, Selasa (3/2/2015). Namun tak disebutkan kapan eksekusi dilaksanakan.
Zhang adalah anggota Church of the Almighty God, anggota sekte yang dianggap ilegal oleh Pemerintah Tiongkok dan dilabeli 'aliran sesat'.
Saat kejadian, 28 Mei 2014, mereka memasuki restoran McDonald’s untuk merekrut pengikut. Mereka lantas menghampiri Wu Shuoyan (35) yang sedang menanti suami dan putranya yang masih kecil.
Nyonya Wu menolak memberikan nomor teleponnya, dan kelompok itu menudingnya sebagai 'roh jahat' dan menyerang korban dengan kursi, tongkat pel, dan tendangan bertubi-tubi. Perempuan malang itu tewas dengan darah yang menggenang di lantai.
"Aku memukulinya dan menginjak-injak dia," kata Zhang dalam sebuah wawancara dari penjara yang disiarkan televisi pemerintah. "Dia adalah iblis. Kami harus menghancurkannya."
Rekaman adegan brutal itu menyebar dan memicu kemarahan warga. Mereka menyayangkan mengapa tak ada saksi mata yang menghalangi kejadian itu. Polisi juga dihujani kritik, dianggap lamban.
Pada Oktober 2014, Zhang dan putrinya divonis hukuman mati. Tiga terdakwa lain dijatuhi hukuman antara 7 dan 10 tahun, hingga seumur hidup.
Eksekusi mati dilaksanakan setelah Mahkamah Agung Tiongkok menyetujui hukuman mati.
Sekte Church of the Almighty God atau Eastern Lightning didirikan di wilayah Timur China pada 1989. Inti dari keyakinan mereka adalah, 'Tuhan kembali ke Bumi dalam wujud perempuan Tiongkok untuk membantu para pengikut selamat dari kiamat'.
Satu-satunya yang mengklaim punya kontak langsung dengan 'Tuhan' semacam itu adalah mantan guru fisika, Zhao Weishan, yang mendirikan sekte tersebut sekitar 25 tahun lalu. Sejak itu ia lari ke Amerika Serikat.
Tak ada yang tahu di mana gerangan Zhao Weishan berada, namun banyak pesan di situs sekte yang menyuarakan permusuhan pada pemerintah Tiongkok dalam Bahasa Inggris, juga Mandarin.
Anggota sekte menyebut pemerintah Tiongkok sebagai Great Red Dragon -- naga merah besar. Dianggap musuh besar. (Ein/Sss)
Advertisement