RI Perlu Belajar dari Jepang Benahi Industri Penerbangan

Industri penerbangan Indonesia dinilai perlu belajar dari Jepang untuk bangkit mulai dari sisi regulasi hingga pola perlindungan penumpang.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 25 Jan 2015, 14:02 WIB
Koreksi tarif penerbangan murah tersebut muncul setelah tragedi pesawat AirAsia QZ8501 pada 28 Desember 2014, Jakarta, Jumat (23/1/2014). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Industri penerbangan Indonesia dinilai perlu bangkit dari keterpurukan, mulai dari sisi regulasi sampai pola perlindungan penumpang apabila terjadi kecelakaan. Dalam hal ini, Indonesia harus belajar dari Jepang.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo mengungkapkan, kasus kecelakaan AirAsia menambah daftar kelam industri penerbangan nasional, setelah sebelumnya dialami Mandala Airline, Adam Air, dan Sukhoi.

"Ini bisa terulang karena kita nggak punya pola ideal perlindungan konsumen. Harusnya di tengah pertumbuhan airlines yang begitu pesat, kita butuh regulator yang full power. Menetapkan sanksi keras bagi maskapai yang melanggar," ujar dia kepada wartawan di Jakarta, Minggu (25/1/2015).

Sudaryatmo mencontohkan, kecepatan penanganan pihak Jepang saat maskapai penerbangan domestik negeri Sakura mengalami kecelakaan 12 menit setelah lepas landas. Tragedi ini menelan korban meninggal dunia 520 orang dan 4 orang selamat.

"Setelah itu, investigasi dilakukan terbuka dan pihak yang mengetahuinya (saksi) dijamin bebas dari tuntutan hukum. Beda dengan Indonesia, pilot bisa dipidana, makanya pada takut jadi saksi," terangnya.

Pihak Japan Airline, lanjut dia, juga melakukan beberapa hal sebagai tindaklanjut dari kecelakaan tersebut. Pertama, membentuk paguyuban ahli waris untuk memastikan tak ada satupun ahli waris terlantar paska kecelakaan yang merenggut nyawa ratusan penumpang.

"Kedua, Japan Airlines membentuk Japan Airline Safety Training Center dan disebut-sebut menjadi salah satu yang terbaik di dunia," ucapnya.

Ketiga, sambung Sudaryatmo, mereka membangun monumen yang bertuliskan nama-nama korban dan komitmen mereka untuk tidak mengulangi kesalahan dengan tulisan never again," jelasnya.

"Yang paling membanggakan, CEO Japan Airline langsung meminta maaf atas kejadian tersebut, sambil membungkukkan badan, mengundurkan diri. Ini menurut saya cara penanganan kecelakaan yang elegan," tegasnya.

Akibat peristiwa nahas itu, kata dia, seluruh maskapai penerbangan dan regulator di Jepang berbenah diri sehingga industri penerbangan di Negeri Sakura itu kembali bangkit dan mendapat kepercayaan masyarakat. "Di Indonesia saya nggak menjamin itu," cetus Sudaryatmo. (Fik/Ahm)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya