Tantangan Berat yang Dihadapi Menteri ESDM Sudirman Said

Menteri ESDM baru memiliki banyak tugas membenahi sektor energi terutama mengkoordinasikan fungsi kementerian ESDM, SKK Migas dan Pertamina.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 27 Okt 2014, 10:45 WIB
(Foto: PT Pindad)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM)/Menteri ESDM Sudirman Said yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengemban banyak tugas membenahi sektor ESDM.

Ketua Umum Ikatan Ahli GeoIogi Indonesia (IAGI), Rovicky Dwi Putrohari mengatakan, salah satu tugas utama Menteri ESDM ini adalah mengkoordinasikan fungsi-fungsi Kementerian ESDM, Fungsi Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) dan Fungsi Pertamina.

"Hal ini akan mengisi mungkin lebih dari 70 persen pekerjaan sehari-hari Pak Menteri," kata Rovicky, di Jakarta, Senin (27/10/2014).

Saat ini Indonesia masih mengutamakan soal produksi dari dalam negeri, melihat energi sebagai komoditas energi.  Akan tetapi  fungsi ESDM sebenarnya juga menyediakan energi serta Sumber Daya Alam mineral sebagai bahan baku industri untuk rakyat.

"Energi siap saji ini (Bahan Bakar, Gas dan Listrik) inilah yang diperlukan rakyat. Dengan demikian khususnya untuk migas tidak hanya lifting tetapi juga impor energi (BBM) serta gas dalam waktu dekat ini," tutur Rovicky.

Ia menambahkan, bentuk energi yang dibutuhkan masyarakat termasuk tugas dan fungsi dari PLN, PGN, dan Pertamina. Ini jelas menunjukkan koordinasi dengan Kementrian BUMN akan sangat erat.

Tantangan utama dari energi siap saji (listrik, bahan bakar dan gas) saat ini di Indonesia adalah harga jual yang dinilai terlalu rendah karena adanya subsidi.

"Sehingga saya kira PR hari pertama Menteri ESDM adalah meninjau 'tata niaga energi' di dalam negeri," ungkapnya.

Beban subsidi tidak hanya pada BBM, pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan, misalnya panas bumi, memiliki target hingga sebesar 23 persen pada 2025. Jika harga beli listrik oleh PLN masih rendah dibawah harga jual tentunya subsidi listrik nantinya akan sekitar US$ 1 Milyar  untuk setiap peningkatan 5000 MW.

Selain  untuk jangka pendek dengan menyusun tata niaga (alokasi subsidi) serta penyediaan energi siap saji ini, tugas kementrian ESDM ini juga eksplorasi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Energi.

" Langkanya penemuan migas serta langkanya penemuan tambang mineral (termasuk batubara) harus menjadi perhatian kementrian ESDM," ujar Rovicky. (Pew/Ahm)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya