'Revolusi Payung', Demo Mahasiswa Hong Kong Kian Panas

Demo di Hong Kong kian memanas, belum ada tanda-tanda protes itu akan diakhiri.

oleh Tanti Yulianingsih diperbarui 30 Sep 2014, 13:33 WIB
Demo di Hong Kong kian memanas, belum ada tanda-tanda protes itu akan diakhiri.

Liputan6.com, Hong Kong - Demo di Hong Kong kian memanas, belum ada tanda-tanda protes itu akan diakhiri. Buktinya, para pengunjuk rasa hingga saat ini masih bertahan di jalanan selama 5 hari berturut-turut.

Bahkan pendemo yang dipimpin para mahasiswa itu, mengancam untuk memperluas aksinya jika kepala eksekutif wilayah itu tidak memenuhi tuntutan mereka untuk melangsungkan reformasi demokratis.

"Kami akan mengumumkan rencana untuk tahap berikutnya pembangkangan sipil pada hari Rabu 1 Oktober, jika Chief Executive Leung Chun-ying tidak memenuhi tuntutan, yang meliputi pengunduran dirinya," demikian sebuah pernyataan singkat Occupy Central group --organisasi yang menggerakkan unjuk rasa, seperti dikuti dari Channel News Asia, Selasa (30/9/2014).

Meski diminta lengser dari jabatannya, sejauh ini belum ada indikasi Leung akan mundur. Ia justru mengritik balik para demonstran.

"Occupy Central diminta memenuhi janji pada masyarakat, dan segera menghentikan aksi protes, yang katanya di luar kendali," kata Leung dalam pidatonya Selasa ini.

Itu komentar pertama Leung sejak hari Minggu 28 September, ketika polisi bersenjatakan pentungan, menggunakan gas air mata, dan semprotan merica berusaha membubarkan para pengunjuk rasa yang terlibat bentrok dengan aparat keamanan.

Puluhan ribu demonstran tetap berkemah di empat jalan utama di Hong Kong. Mengabaikan tuntutan pemerintah untuk meninggalkan jalanan.

Banyak demonstran berkemah di jalan-jalan distrik yang merupakan pusat keuangan Hong Kong, sementara polisi anti-huru hara menarik diri dari daerah tersebut. Hanya tampak polisi membuat barikade, tetapi tidak ada tembakan gas air mata ke kerumunan.

Eddie Fung, seorang petugas konstruksi mengatakan dia mendukung demonstrasi yang dipimpin mahasiswa itu.

"Saya pikir jika kita menginginkan sesuatu, korban tidak bisa dihindari. Kalau tidak ada rasa sakit, tidak bisa untung kan? Ketika saya melihat gairah orang-orang muda itu, saya mendukung mereka dari dalam hati. Tapi saya berharap tidak akan ada pertumpahan darah," tutur pria berusia 60 tahun itu.

Protes itu merupakan kerusuhan terburuk di Hong Kong, sejak Beijing mengambil alih koloni Inggris pada tahun 1997.

Beberapa menyebut protes yang digawangi mahasiswa itu sebagai 'Revolusi Payung' atau 'Umbrella Revolution'. Karena para demonstran menggunakan payung untuk melindungi diri dari matahari dan semprotan merica serta meriam air dari polisi.

Para pengunjuk rasa menyerukan pemilihan terbuka untuk pemilu 2017. Namun Beijing mengatakan akan meninjau dan menyetujui daftar calonnya.

Bekas koloni Inggris itu selama ini memang menikmati otonomi di bawah kerangka "1 negara, 2 sistem". Tapi banyak yang percaya Beijing bertekad untuk mengikis kebebasan warganya, seperti menghapus pengadilan yang independen dan kebebasan pers.

Pemerintah di Beijing mengecam keras demonstrasi ini, dan menyatakan mendukung sikap pemerintah Hong Kong. China tak setuju dengan tuntutan para demonstran yang mendesak pemimpin Hong Kong dipilih secara langsung dan bebas pada 2017.

Akibat demo itu, banyak perusahaan dan layanan kereta bawah tanah serta bus ditutup hingga Selasa ini.

Bursa Hong Kong, Hang Seng juga anjlok 1,9 persen pada Senin 29 September. Menimbulkan kekhawatiran ada kerusuhan lain terkait ekonomi di wilayah tersebut. Sementara pada Selasa, saham di kota itu jatuh 0,4 persen pada awal perdagangan. (Ein)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya