Rebutan Pasar Minyak Sawit, Indonesia-Malaysia Perang Pajak

Kali ini, Indonesia dan Malaysia terlibat perang pajak ekspor yang dirancang untuk mendorong penjualan minyak sawit masing-masing negara

oleh Siska Amelie F Deil diperbarui 22 Sep 2014, 12:10 WIB
(Foto: Reuters)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dan Malaysia terus bersaing ketat guna memenangkan sejumlah pasar atas produksi minyak sawit keduanya yang mencapai 85 persen produksi global. Kali ini, Indonesia dan Malaysia terlibat perang pajak ekspor yang dirancang untuk mendorong penjualan minyak sawit dari masing-masing negara.

Persaingan dua negara produsen minyak sawit terbesar dunia ini diprediksi dapat meningkatkan konsumsi minyak sawit global dalam beberapa bulan ke depan.

Mengutip laman The Star Business, Senin (22/9/2014), hanya selang dua bulan setelah Malaysia memangkas bea ekspornya, produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia juga mengambil langkah yang sama guna mendorong penjualan komoditas tersebut. Minyak sawit memang digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari memasak hingga menjadi bahan baku sejumlah produk dari permen hingga kosmetik.

Sejauh ini, Malaysia diprediksi akan kehilangan keuntungan dari langkahnya memangkas bea ekspor tersebut. Padahal sepanjang bulan ini, total pengiriman minyak sawit Malaysia terbilang cukup meningkat.

Meski begitu, para pedagang dan analis mengatakan, masih ada ruang bagi kedua negara untuk mengambil keuntungan dari biaya ekspor minyak sayur Argentina dan Ukraina.

Sejauh ini, minyak sawit mendominasi pasar minyak sayur dunia dengan pangsa pasar sebesar 62 persen. Harganya tercatat lebih murah US$ 106,5 per ton lebih murah dibandingkan minyak kedelai Argentina.

Harga yang murah ditambah bea ekspor yang rendah dapat menyebabkan lonjakan permintaan minyak sawit secara global. India dan China bahkan mulai meningkatkan permintaannya.


Untuk diketahui, Malaysia mengumumkan bebas bea ekspor selama dua bulan yang berlaku efektif mulai 1 September 2014. Pemerintah Malaysia memang bertujuan mengurangi pasokan yang ada dari rekor 2,05 juta ton sepanjang Agustus, meningkat dari 1,69 juta ton pada Juli.

Para analis mengatakan, ekspor minyak sawit meningkat hingga 41 persen selama 10 hari sejak aturan bebas bea ekspor tersebut diberlakukan.

Merespons putusan Malaysia, Indonesia yang merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia juga mengumumkan akan membebaskan bea ekspor untuk komoditas tersebut. Aturan tersebut mengurangi bea ekspor secara drastis dari 9 persen sebelumnya dan akan berlaku efektif mulai 1 Oktober 2014.

Bersama-sama, Indonesia dan Malaysia berkontribusi menyediakan 85 persen dari total produksi minyak sawit dunia. Direktur Godrej International, Dorab Mistry mengatakan, harga CPO tidak mungkin jatuh lebih rendah di bawah biaya produksi 1.900 ringgit per ton. (Sis/Ndw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya