25 Pecahan Logam Petunjuk Tragedi Pesawat MH17

Penyelidikan terhadap tragedi MH17 masih dilanjutkan oleh otoritas yang berwenang, termasuk pemerintah Belanda.

oleh Rizki Gunawan diperbarui 13 Sep 2014, 10:12 WIB
Puing pesawat Malaysia Airlines MH17 (Reuters)

Liputan6.com, Amsterdam - Sebagian besar jasad penumpang tragedi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 telah dipulangkan ke negara asal. Namun penyebab pasti kecelakaan kapal tersebut belum diketahui. Sejauh ini, pesawat diduga kuat ditembak rudal dari darat.

Penyelidikan masih dilanjutkan oleh otoritas yang berwenang, termasuk pemerintah Belanda, negara asal sebagian besar penumpang MH17. Menurut seorang otoritas Negeri Kincir Angin, pihaknya saat ini tengah mengidentifikasi 25 pecahan logam yang ditemukan di lokasi jatuhnya Boeing 777 itu.

Kepala Kejaksaan Nasional Belanda Fred Westerbeke mengatakan, 25 pecahan logam itu diambil dari 500 sampel yang ditemukan, yang diduga kuat bisa menjadi petunjuk apakah benar pesawat MH17 itu ditembak rudal atau tidak.

"Skenario paling mungkin memang bahwa pesawat itu ditembak jatuh dari tanah," ujar Fred, seperti dimuat BBC, Sabtu (13/9/2014).

"Andai saja kita tahu asal usul logam tersebut, tentu ini akan menjadi informasi penting. Tapi sejah ini kita belum tahu, dan tengah menyelidikinya," imbuh dia.

Patricia Zorko dari Kepolisian Nasional Belanda menambahkan, selain menginvestigasi logam, penyelidik Belanda juga tengah mempelajari rekaman yang diduga merupakan suara pemberontak Ukraina soal serangan rudal.

"Percakapakan itu diduga antara pemberontak soal pesawat jatuh. Oleh karena itu, kita perlu benar-benar menelusurinya," ujar Patricia.

Tak hanya itu, penyelidikan juga dilakukan dengan cara mengambil sampel forensik tubuh korban dan bagasi, melacak menggunakan data satelit, memeriksa sejumlah saksi mata, dan bukti percakapan di pesawat.

Pesawat MH17 yang mengangkut 298 orang jatuh saat melintasi Ukraina Timur pada 17 Juli 2014 lalu. Seluruh penumpang dan awak dinyatakan tewas. Sejak itu, tak ada maskapai yang berani menerbangkan pesawat melintasi Ukraina, termasuk Emirates dan British Airways, karena negara tersebut masih dilanda konflik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya