Kabar miring datang dari Ghana. Di sela-sela dilangsungkannya putaran final Piala Afrika 2008 yang berlangsung dari 20 Januari lalu sampai 10 Februari mendatang, pelatih Timnas Benin, Reinhard Fabisch, sangat khawatir jika turnamen paling bergengsi itu dicemari tangan-tangan kotor dari Asia.
Seperti yang dilansir BBC Sports News, pelatih berkebangsaan Jerman berusia 57 tahun itu mengklaim dua hari sebelum partai antara timnya melawan Mali di babak penyisihan Grup C, yang berlangsung di Sekondi Stadium, Sekondi-Takoradi, 21 Januari lalu yang berkesudahan 1-0 untuk Mali, ia mendapat kunjungan tak bersahabat dari seseorang yang mengaku mampu mengatur skor atau hasil pertandingan di benua Afrika.
“Ia berusaha mencari tahu apakah ada kemungkinan untuk dapat memanipulasi (mengatur) hasil pertandingan,” tegas Fabisch yang mengaku pertemuan tersebut berlangsung di tempat hotel timnya menginap. Lalu, tanggapan Fabisch? “Saya katakan kepadanya, Anda punya waktu dua menit meninggalkan hotel atau saya bakal menghubungi pihak kepolisian,” ancamnya.
Fabisch mengaku ia siap memberikan keterangan kepada Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) tentang nama orang tersebut—seorang berkulit hitam asal Afrika—yang mengklaim merupakan utusan dari sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura.
Orang tersebut, lanjut Fabisch juga mengklaim perusahaannya itu berencana akan meraup uang dalam jumlah banyak dari taruhan jumlah gol yang tercipta di partai pembuka Piala Afrika. Partai dimaksud adalah pertandingan antara tuan rumah Ghana melawan Guinea, Minggu, 20 Januari lalu yang berkesudahan 2-1 untuk Michael Essien dkk.
“Saya benar-benar heran (kaget), ia punya keberanian (nyali) mendekati seorang pelatih asal Jerman untuk mengatur hasil pertandingan,” tegas Fabisch. Karena itu, “Saya pikir, para pemain Afrika sangat rentan dengan pendekatan seperti itu. Sebab, sebagian besar dari mereka terbilang orang yang miskin. Itulah sebabnya, mereka mengincar Benin,” tambahnya.
Seperti yang dilansir BBC Sports News, pelatih berkebangsaan Jerman berusia 57 tahun itu mengklaim dua hari sebelum partai antara timnya melawan Mali di babak penyisihan Grup C, yang berlangsung di Sekondi Stadium, Sekondi-Takoradi, 21 Januari lalu yang berkesudahan 1-0 untuk Mali, ia mendapat kunjungan tak bersahabat dari seseorang yang mengaku mampu mengatur skor atau hasil pertandingan di benua Afrika.
“Ia berusaha mencari tahu apakah ada kemungkinan untuk dapat memanipulasi (mengatur) hasil pertandingan,” tegas Fabisch yang mengaku pertemuan tersebut berlangsung di tempat hotel timnya menginap. Lalu, tanggapan Fabisch? “Saya katakan kepadanya, Anda punya waktu dua menit meninggalkan hotel atau saya bakal menghubungi pihak kepolisian,” ancamnya.
Fabisch mengaku ia siap memberikan keterangan kepada Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) tentang nama orang tersebut—seorang berkulit hitam asal Afrika—yang mengklaim merupakan utusan dari sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura.
Orang tersebut, lanjut Fabisch juga mengklaim perusahaannya itu berencana akan meraup uang dalam jumlah banyak dari taruhan jumlah gol yang tercipta di partai pembuka Piala Afrika. Partai dimaksud adalah pertandingan antara tuan rumah Ghana melawan Guinea, Minggu, 20 Januari lalu yang berkesudahan 2-1 untuk Michael Essien dkk.
“Saya benar-benar heran (kaget), ia punya keberanian (nyali) mendekati seorang pelatih asal Jerman untuk mengatur hasil pertandingan,” tegas Fabisch. Karena itu, “Saya pikir, para pemain Afrika sangat rentan dengan pendekatan seperti itu. Sebab, sebagian besar dari mereka terbilang orang yang miskin. Itulah sebabnya, mereka mengincar Benin,” tambahnya.