Isu Pengaturan Skor di Piala Afrika 2008

Pelatih Timnas Benin, Reinhard Fabisch, sangat khawatir turnamen Piala Afrika 2008 yang berlangsung di Ghana bakal dicemari pengaturan skor atau hasil pertandingan. Pasalnya, Fabisch mengaku ia didekati seorang petaruh jelang laga timnya melawan Mali.

oleh Liputan6Diterbitkan 25 Januari 2008, 16:45 WIB
The German coach of "The Squirrels" (Les Ecureuils), the Benin's national football team, Reinhard Fabisch (C) speaks to his players during a traing session in Takoradi 24 January 2008 for their 2008 African Cup of Nations. AFP PHOTO/ISSOUF
Kabar miring datang dari Ghana. Di sela-sela dilangsungkannya putaran final Piala Afrika 2008 yang berlangsung dari 20 Januari lalu sampai 10 Februari mendatang, pelatih Timnas Benin, Reinhard Fabisch, sangat khawatir jika turnamen paling bergengsi itu dicemari tangan-tangan kotor dari Asia.

Seperti yang dilansir BBC Sports News, pelatih berkebangsaan Jerman berusia 57 tahun itu mengklaim dua hari sebelum partai antara timnya melawan Mali di babak penyisihan Grup C, yang berlangsung di Sekondi Stadium, Sekondi-Takoradi, 21 Januari lalu yang berkesudahan 1-0 untuk Mali, ia mendapat kunjungan tak bersahabat dari seseorang yang mengaku mampu mengatur skor atau hasil pertandingan di benua Afrika.

“Ia berusaha mencari tahu apakah ada kemungkinan untuk dapat memanipulasi (mengatur) hasil pertandingan,” tegas Fabisch yang mengaku pertemuan tersebut berlangsung di tempat hotel timnya menginap. Lalu, tanggapan Fabisch? “Saya katakan kepadanya, Anda punya waktu dua menit meninggalkan hotel atau saya bakal menghubungi pihak kepolisian,” ancamnya.

Fabisch mengaku ia siap memberikan keterangan kepada Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) tentang nama orang tersebut—seorang berkulit hitam asal Afrika—yang mengklaim merupakan utusan dari sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura.

Orang tersebut, lanjut Fabisch juga mengklaim perusahaannya itu berencana akan meraup uang dalam jumlah banyak dari taruhan jumlah gol yang tercipta di partai pembuka Piala Afrika. Partai dimaksud adalah pertandingan antara tuan rumah Ghana melawan Guinea, Minggu, 20 Januari lalu yang berkesudahan 2-1 untuk Michael Essien dkk.

“Saya benar-benar heran (kaget), ia punya keberanian (nyali) mendekati seorang pelatih asal Jerman untuk mengatur hasil pertandingan,” tegas Fabisch. Karena itu, “Saya pikir, para pemain Afrika sangat rentan dengan pendekatan seperti itu. Sebab, sebagian besar dari mereka terbilang orang yang miskin. Itulah sebabnya, mereka mengincar Benin,” tambahnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya