Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyadari bahwa utang luar negeri pada posisi April 2014 mengalami kenaikan 7,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Sebab itu, pihaknya terus memantau perkembangan utang luar negeri, terutama pada perbankan dan perusahaan terbuka (emiten).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengungkapkan, pihaknya terus melakukan sosialisasi, edukasi dan penyuluhan kepada perusahaan swasta.
Sebab utang luar negeri sektor swasta bertumbuh 13 persen year on year atau lebih tinggi dibanding Maret lalu sebesar 12,2 persen.
"Kalau untuk bank sudah ada aturan pembatasan utang luar negeri. Tapi kita saat ini ingin mendorong penerapannya juga ke anak usaha bank itu biar nggak terlalu besar dampaknya terhadap risiko nilai tukar yang berlebihan," kata dia seperti dikutip Rabu (16/7/2014).
Menurut Muliaman, OJK pun ingin memantau lebih dalam penerbitan utang luar negeri dari perusahaan yang tercatat di bursa saham. Pasalnya emiten juga menyumbang pertumbuhan utang luar negeri di sektor swasta.
"Tapi kita tidak akan mengeluarkan peraturan, hanya mengatakan analisa risikonya bagaimana. Yang ditekankan risiko pasarnya berapa banyak, dan harus memperhatikan manajemennya (utang)," ucap dia.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), utang luar negeri Indonesia per April ini mencapai US$ 276,6 miliar. Jumlah tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 7,6 persen dari April 2013.
"Pertumbuhan tahunan utang luar negeri di April ini melambat dibanding Maret lalu yang sebesar 8,7 persen year on year," seperti ditulis dalam siaran pers resmi BI.
Advertisement