Neraca Transaksi Berjalan Tak Dibenahi, Rupiah Terus Tertekan

Ekonomi Indonesia akan lebih baik ke depan dengan penyelenggaraan pemilu yang sudah bagus.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 14 Jul 2014, 22:51 WIB
Mantan Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengaku tidak kenal dengan nama-nama tersangka kasus proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olah Raga Nasional (P3SON) di Hambalang, Kabupaten Bogor. (Liputan6.com/Faisal R Syam)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan terus merosot apabila tidak ditopang dengan penyehatan neraca transaksi berjalan.

"Nilai tukar rupiah yang tidak didukung dengan transaksi berjalan yang sehat, maka akan terus terjadi pelemahan. Makanya kami harus menyiapkan diri sampai 2018 karena ada kondisi tingkat bunga yang meningkat di tahun depan," ujarnya di Jakarta, Senin (14/7/2014) malam.

Agus mengaku, defisit transaksi berjalan pada tahun 2012 sebesar US$ 24 miliar. Jumlah ini meningkat menjadi US$ 29 miliar pada tahun lalu. Dia memperkirakan, Indonesia masih akan mengalami tekanan impor minyak yang cukup tinggi.

"Kami khawatir masih ada tekanan impor bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi di 2014. Tapi memang ada perkembangan baik. dari sisi ekspor, di mana pertumbuhan ekspor non migas yang cukup kuat. Itu tidak akan berarti apabila tidak diimbangi dengan defisit migas," terangnya.

Indonesia, kata Agus, dapat melakukan perbaikan defisit transaksi berjalan. Ini tentu memerlukan komitmen dari semua pihak dengan memberikan perhatian lebih kepada stabilisasi ekonomi domestik yang lebih baik. Harapan ini seiring dengan membaiknya ekonomi global pada tahun depan.

"Sedangkan dalam jangka pendeknya, ekonomi Indonesia akan lebih baik ke depan dengan penyelenggaraan pemilu yang sudah bagus, kejelasan hasil pemilu pada 22 Juli mendatang, cadangan devisa meningkat dan keberlanjutan pelaksanaan reformasi struktural," cetusnya. (Fik/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya