Ada Fenomena Segitiga Bermuda di Angkasa Perairan Brasil

Nama resmi area berbahaya itu adalah South Atlantic Anomaly (SAA), tetapi sejumlah orang menyebutnya 'Segitiga Bermuda Angkasa'.

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 22 Mei 2014, 12:08 WIB
South Atlantic Anomaly (NASA)

Liputan6.com, Houston - Hari itu, 25 September 2010, satelit Space Based Space Surveillance (SBSS) milik Angkatan Udara Amerika Serikat diluncurkan. Pesawat US$833 juta atau Rp 9,6 triliun itu diperkirakan memliki masa kerja setidaknya 5,5 tahun.

Namun, sesaat setelah diluncurkan, SBSS melewati Atlantik Selatan, dan semuanya jadi tak terkendali. Pesawat tersebut diterjang radiasi yang melumpuhkan sensor dan perangkat elektroniknya. Tiba-tiba, satelit berharga mahal itu tak bisa melakukan apapun.

Efek radiasi menjadi bagian dari risiko bisnis di angkasa luar. Ada jilatan api matahari (solar flare), distorsi magnetik acak, dan apa yang oleh beberapa ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) disebut 'elektron pembunuh dari sabuk radiasi Van Allen -- dua sabuk partikel bermuatan di sekitar planet manusia yang ditahan di tempatnya oleh medan magnet bumi.

Tempat pesawat ruang angkasa menjadi paling rentan adalah di sebuah area yang sedikit lebih besar dari wilayah AS, terpusat di 300 kilometer di lepas pantai Brasil, di mana sabuk radiasi Van Allen berada pada titik terdekatnya dengan permukaan Bumi. Nama resminya adalah Anomali Atlantik Selatan atau South Atlantic Anomaly (SAA), tetapi sejumlah orang menyebutnya 'Segitiga Bermuda Angkasa'.

Itu adalah area di mana komputer stasiun luar angkasa tiba-tiba rusak, teleskop antariksa tidak dapat beroperasi, dan satelit mendadak mengalami shutdown. Saat sabuk tersebut ditemukan pada tahun 1950-an, para ilmuwan menduga SAA bisa menimbulkan beberapa risiko.

Benar saja. Saat peralatan elektronik yang digunakan di pesawat antariksa makin kompleks, masalah makin meningkat. Para astronot di pesawat ulang-alik menyadari bahwa komputer jinjing mereka kadang-kadang tak berfungsi saat melintasi wilayah anomali. Mereka juga melihat kilatan cahaya aneh di depan mata mereka. Sejumlah pesawat seperti Teleskop Luar Angkasa Hubble diprogram untuk menonaktifkan instrumen rentan mereka saat melintasi SAA, untuk menghindari kerusakan.

Sabuk Van Allen juga dipengaruhi badai Matahari dan cuaca antariksa dan dapat melembung dengan sangat luar biasa. Ketika itu terjadi, sabuk tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi satelit GPS dan komunikasi, serta manusia di antariksa.

Dipetakan

Foto dok. Liputan6.com


Seperti Liputan6.com kutip dari situs sains New Scientist, sebuah pesawat antariksa milik Eropa memberikan pada kita kilasan tentang segitiga bermuda angkasa itu.  

Baru-baru ini, Riccardo Campana dari National Institute for Astrophysics di Bologna, Italia beserta para koleganya mendesain teleskop luar angkasa yang akan mengorbit di bagian bawah zona berbahaya SAA-- yang selama ini belum dipelajari dengan baik.

"Kebanyakan model radiasi yang digunakan dalam perencanaan misi luar angkasa didasarkan pada ekstrapolasi dari lintang tinggi," kata Campana. " Membuatnya kurang akurat untuk berbagai jenis orbit."

Agar lebih baik menilai risikonya, tim menganalisis data radiasi dari satelit satelit sinar-X yang disebut  BeppoSAX, yang aktif dari 1996 sampai 2003. Ia memiliki orbit yang sama dengan teleskop baru yang direncanakan akan diluncurkan ke angkasa. Itu berarti BeppoSAX secara teratur melewati tepian SAA.

Mereka menemukan, tingkat radiasi di lapisan bawah SAA jauh lebih sedikit daripada di lapisan atas. Mereka juga melihat bahwa anomali perlahan-lahan bergerak ke arah barat.

Hal ini secara umum sejalan dengan data dari satelit lain yang dianalisis pada 2009, yang mencakup wilayah tengah SAA tersebut.

Analisi yang mereka lakukan justru memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang South Atlantic Anomaly (SAA). Data BeppoSAX dapat ditambahkan ke peta area tersebut yang sudah ada sebelumnya. (Yus)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya