Liputan6.com, Jakarta - Nama Tri Rismaharini terus mencuat seiring rencana pengunduran dirinya sebagai Walikota Surabaya. Penyebabnya diduga karena ketidaksetujuannya dengan pengangkatan Wakil Walikota Surabaya baru yaitu Wisnu Sakti Buana.
"Risma jangan mundur, pemimpin jangan cengeng," kata pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (27/2/2014).
Hamdi menambahkan, dalam politik pasti ada kepentingan-kepentingan. Kepentingan itu bisa sangat keras. "Jangan takut dengan tekanan politik. Teguh saja," ucap Hamdi.
Hamdi menambahkan, selagi untuk kepentingan publik, Risma tetap harus mengedepankan agenda publik. Risma juga harus amanah menjalankan tugas.
"Amanah saja. tidak korupsi. Selagi mengedepankan agenda publik, Kita kawal," tandas Hamdi.
Pada Kamis 20 Februari 2014, Risma menemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Tujuannya, meminta bantuan dalam menghadapi polemik yang saat ini sedang dialaminya.
Risma mengaku keberatan dengan pemilihan Wakil Walikota Surabaya yang baru, Wisnu Sakti Buana. Dia menganggap, pemilihan tersebut tidak transparan dan tidak sesuai prosedur.
Menyikapi hal tersebut, Priyo kemudian menggelar pertemuan dengan Mendagri Gamawan Fauzi, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Komisi II DPR pada Rabu 26 Februari 2014.
Hasilnya, Gamawan Fauzi dan Soekarwo satu suara menyatakan tak ada kesalahan prosedural dalam pengangkatan Wisnu sebagai Wakil Walikota Surabaya. Kemudian, Ketua Komisi II DPR Agun Gunanjar menuturkan, bahwa permasalahan itu menjadi kewenangan DPRD Surabaya. (Tanti Yulianingsih)
Advertisement
Baca juga: