Jepang Alami Krisis Ekonomi Terburuk Sejak 1945

Perekonomian Jepang dilaporkan anjlok menyusul menguatnya nilai mata uang Yen dan berkurangnya nilai GDP negara itu. Cina pun mendesak dunia internasional menjauhi proteksionisme.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Februari 2009, 10:38 WIB
Liputan6.com, Tokyo: Jepang mengumumkan penyusustan pendapatan rata-rata masyarakat (GDP) pada kuartal keempat 2008 sebanyak 12,7 persen, Senin (16/2). Menguatnya nilai tukar mata uang Yen Jepang turut memperburuk krisis itu. Tokyo menyebutnya sebagai krisis ekonomi terburuk yang dialami Jepang sejak perang dunia kedua.

Ditengah krisis itu, oposisi Jepang menyerukan mundurnya Menteri Keuangan Shoichi Nakagawa. Sebelumnya Nakagawa tampak mabuk dalam konferensi pers pertemuan menteri keuangan anggota G7 di Roma, Italia, pada 14 Februari silam.

Nakagawa berdalih, ia mengantuk karena tengah menjalani pengobatan penyakit flu. Pernyataan ini diperkuat oleh Perdana Menteri Jepang Taro Aso. Namun, oposisi tak peduli dan menuntut Nakagawa mundur. Posisi Aso semakin sulit, apalagi jajak pendapat terbaru menyebutkan popularitasnya jatuh. Ini menimbulkan spekulasi, jika Aso akan mundur dalam waktu dekat dan menggelar pemilu DPR Jepang.

Meski ekonomi memburuk, namun tidak semua negara menyambut gembira lolosnya paket stimulus ekonomi Amerika Serikat. Paket senilai US$ 789 miliar menuai kritik pedas Cina. Klausul pembelian barang produksi dalam negeri AS memancing Cina untuk memperingatkan aksi proteksionisme perdagangan. Ini akan semakin memperparah dampak krisis ekonomi global. Komentar Beijing ini dilontarkan menyusul anjloknya investasi luar negeri non keuangan ke negara itu sebanyak 32,7 persen.(UPI)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya