Liputan6.com, Jakarta: Kunjungan dan dialog Presiden Megawati Sukarnoputri dengan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam tak maksimal. Sebab, selain tak melibatkan seluruh kelompok masyarakat Serambi Mekah, Megawati juga tak menawarkan solusi konkret untuk meredam konflik di Aceh [baca: Interupsi Mewarnai Pidato Megawati di Aceh]. Penilaian tersebut diutarakan pengamat politik Indria Samego di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Indria, ketakmaksimalan upaya Presiden itu tampak karena dialog tak melibatkan separatis Gerakan Aceh Merdeka. Padahal, masalah GAM adalah satu di antara persoalan penting yang ada di Tanah Rencong.
Hal senada juga diungkapkan Ghazali Abbas Adan, anggota MPR asal Aceh. Menurut Ghazali, saat ini rakyat Aceh sangat mendambakan berakhirnya pertumpahan darah di Serambi Mekah. Namun demikian, ia menilai pidato Presiden dapat membangkitkan rasa optimistis rakyat Aceh untuk keluar dari konflik berkepanjangan. Selain itu, ia juga menilai pemberlakuan Otonomi Khusus dengan Undang-undang Nanggroe Darussalam di Aceh tak akan berjalan optimal jika pemerintah masih memberlakukan pendekatan keamanan.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Indria, ketakmaksimalan upaya Presiden itu tampak karena dialog tak melibatkan separatis Gerakan Aceh Merdeka. Padahal, masalah GAM adalah satu di antara persoalan penting yang ada di Tanah Rencong.
Hal senada juga diungkapkan Ghazali Abbas Adan, anggota MPR asal Aceh. Menurut Ghazali, saat ini rakyat Aceh sangat mendambakan berakhirnya pertumpahan darah di Serambi Mekah. Namun demikian, ia menilai pidato Presiden dapat membangkitkan rasa optimistis rakyat Aceh untuk keluar dari konflik berkepanjangan. Selain itu, ia juga menilai pemberlakuan Otonomi Khusus dengan Undang-undang Nanggroe Darussalam di Aceh tak akan berjalan optimal jika pemerintah masih memberlakukan pendekatan keamanan.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)