Liputan6.com: Skotlandia: Ayah yang menawan tak mewariskan ketampanannya kepada putra mereka, tapi akan menurunkan pesonanya kepada putri mereka. Demikian hasil suatu penelitian dari Profesor David Perrett dan Prof. Elisabeth Cornwell, dari University of St. Andrews, Skotlandia. Pria ganteng dengan penampilan maskulin lebih mungkin untuk menurunkan ciri maskulin mereka, tapi bukan daya tarik wajah dan kecantikan seorang ibu tak membuat perbedaan pada daya tarik putra mereka saat dewasa.
Teori itu menunjukkan bukan tidak biasa bahwa orang-tua yang menawan memiliki seorang putri yang cantik tapi gagal mewariskan daya-tarik yang sama pada putra mereka. Sedangkan beberapa ahli ilmu jiwa mendapati bahwa kedua orangtua mempengaruhi daya tarik putri mereka, namun daya tarik pada anak laki-laki tak terwarisi.
Prof. Perrett mengatakan, seorang perempuan akan meningkatkan keberhasilan keturunannya dengan memilih pasangan yang seksi, yang gennya akan ditularkan ke anak laki-laki sehingga mereka jadi tak dapat ditolak oleh generasi mendatang.
Tetapi studi baru itu, yang diterbitkan di dalam edisi saat ini jurnal "Animal Behaviour", bertolak-belakang dengan teori tersebut. Dalam penelitiannya untuk melihat apakah ciri wajah laki-laki dan perempuan diwarisi. Untuk garis laki-laki mendapati ciri wajah maskulin sejalan dengan konsep bapak dan anak sama saja. Ayah yang maskulin memiliki putra yang maskulin. Namun, tak ditemukan bukti apa pun bahwa daya tarik wajah diwariskan dari ayah kepada putranya. Jawabannya mungkin karena perempuan sangat beragam dalam hal mereka mendapati daya tarik maskulin.
Bahwa perempuan feminim yang menarik memperlihatkan pilihan kuat bagi wajah pria maskulin untuk dijadikan pasangan jangka-panjang. Buktinya bahwa daya-tarik diturunkan dari ayah dan ibu ke anak perempuan. Dan juga bahwa ayah yang mempesona lebih mungkin untuk memiliki putri yang feminim dan menarik, baik ibunya menarik atau tidak.
Dalam studi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa orangtua yang cantik memiliki lebih banyak putri dibandingkan dengan orang tua yang jelek.(RIO/ANTARA)
Teori itu menunjukkan bukan tidak biasa bahwa orang-tua yang menawan memiliki seorang putri yang cantik tapi gagal mewariskan daya-tarik yang sama pada putra mereka. Sedangkan beberapa ahli ilmu jiwa mendapati bahwa kedua orangtua mempengaruhi daya tarik putri mereka, namun daya tarik pada anak laki-laki tak terwarisi.
Prof. Perrett mengatakan, seorang perempuan akan meningkatkan keberhasilan keturunannya dengan memilih pasangan yang seksi, yang gennya akan ditularkan ke anak laki-laki sehingga mereka jadi tak dapat ditolak oleh generasi mendatang.
Tetapi studi baru itu, yang diterbitkan di dalam edisi saat ini jurnal "Animal Behaviour", bertolak-belakang dengan teori tersebut. Dalam penelitiannya untuk melihat apakah ciri wajah laki-laki dan perempuan diwarisi. Untuk garis laki-laki mendapati ciri wajah maskulin sejalan dengan konsep bapak dan anak sama saja. Ayah yang maskulin memiliki putra yang maskulin. Namun, tak ditemukan bukti apa pun bahwa daya tarik wajah diwariskan dari ayah kepada putranya. Jawabannya mungkin karena perempuan sangat beragam dalam hal mereka mendapati daya tarik maskulin.
Bahwa perempuan feminim yang menarik memperlihatkan pilihan kuat bagi wajah pria maskulin untuk dijadikan pasangan jangka-panjang. Buktinya bahwa daya-tarik diturunkan dari ayah dan ibu ke anak perempuan. Dan juga bahwa ayah yang mempesona lebih mungkin untuk memiliki putri yang feminim dan menarik, baik ibunya menarik atau tidak.
Dalam studi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa orangtua yang cantik memiliki lebih banyak putri dibandingkan dengan orang tua yang jelek.(RIO/ANTARA)