Sekarbela, Desa Penghasil Kerajinan Emas dan Mutiara

Perajin dan pedagang emas di Desa Sekarbela, Ampenan, NTB, mampu meraup untung miliaran rupiah per bulan. Nama Desa Sekarbela kini terkenal sampai ke mancanegara.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 27 Agustus 2001, 16:53 WIB
Perajin dan pedagang emas di Desa Sekarbela, Ampenan, NTB, mampu meraup untung miliaran rupiah per bulan. Nama Desa Sekarbela kini terkenal sampai ke mancanegara.

Liputan6.com, Mataram: Ada yang berubah di Desa Sekarbela, Ampenan, Nusatenggara Barat, dalam enam tahun terakhir. Kendati telah terkenal sebagai pusat kerajinan emas di Pulau Lombok, sejak dua abad silam, baru belakangan ini kehidupan ekonomi para pande emas terangkat. Bahkan, wajah Desa Sekarbela, kini lebih berwarna dengan kehadiran sederetan toko emas mewah. Menurut seorang perajin emas dan mutiara bernama H. Fathoni, baru-baru ini, Sekarbela telah dikenal sebagai pusat kerajinan emas sejak jaman Kerajaan Bali di Pulau Lombok, sekitar tahun 1800-an. Namun, saat itu, pola pemasaran dan desain produk emas masih sangat tradisional. Kondisi ini menyebabkan kehidupan ekonomi para perajin emas terlihat susah. Nasib para pande emas mulai berubah sejak ada usaha budidaya mutiara, 1995. Para pande emas mengubah gaya hasil kerajinan mereka, yakni dengan memasang mutiara pada emas yang dihasilkan. "Sejak itulah nama Sekarbela kian dikenal masyarakat luas, bahkan hingga mancanegara," kata Fathoni. Jumlah perajin yang dulu nyaris punah bahkan kini tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Selain itu, jika selama turun temurun perajin hanya menjual hasil karyanya di pasar tradisional, kini mereka telah memiliki toko dan galeri sendiri. Hal ini, kata Fathoni, membuat kesempatan kerja bagi warga Sekarbela kian luas. Di desa itu kini nyaris tanpa pengangguran. Dalam waktu sebulan, seorang pedagang perhiasan mampu melakukan transaksi rata-rata Rp 100 juta. Bahkan, ada juga pedagang yang bisa mencapai aset miliaran rupiah. Tak heran bila kehidupan sebagian besar warga Sekarbela tergantung dari kocek para wisatawan yang membeli emas mereka.(ULF/Adhar Hakim)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya