Liputan6.com, Yogyakarta: Kekuatan batik terletak pada motif dan warna. Di Yogyakarta, seorang pembatik membuat motif yang tidak lazim dan pewarnaannya juga menggunakan cara-cara yang aneh. Unsur unik dan eksentrik yang disajikan Kanjeng Raden Tumenggung Daud Wiryo, membuat ia berhasil meraih berbagai penghargaan.
Batik yang dibuat pria berusia 54 tahun ini memiliki pewarnaan yang berbeda dari batik kebanyakan. Pebatik asal Desa Sidorejo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini berkarya dengan bahan alami, seperti daun sirih atau wortel. Kedua bahan tersebut menghasilkan tonjolan warna hijau dan merah. Ada pula hasil karyanya yang terbuat dari lumpur Lapindo dan minyak goreng. Bahkan salah satu bahannya harus direndam di sawah untuk mendapat warna yang diinginkan.
Motif yang dihasilkan keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini pun cenderung aneh. Dalam karyanya yang bersifat tematis, Daud kerap memasukkan peristiwa alam dan sosial. Misalnya, gempa bumi di Yogyakarta yang disimbolkan dengan mobil jeep pengangukut bantuan bagi korban.
Malahan, Daud pernah diperiksa pihak kepolisian karena menggambarkan dengan lengkap peristiwa Bom Bali di batik buatannya. Daud dianggap mengetahui perencanaan bom tersebut. Karya terbaru Daud yang mengikuti isi sosial dunia adalah motif tragedi kemanusiaan di Timur Tengah. Motif ini merupakan hasil dari pengamatan pada sejumlah foto.
Menurut seniman kreatif ini, pembuatan batik bertema tersebut memakan waktu tiga hingga tujuh bulan. Hal ini disebabkan proses pencarian dan pengolahan bahan yang membutuhkan waktu. Pengerjaannya pun membutuhkan waktu lama karena harus mencari ide dan cara menerjemahkannya lewat lukisan di atas kain. Tak heran bila harga yang ditawarkan juga sepadan alias agak mahal. "Saya harus membayar orang-orang yang membantu proses pengerjaan batik ini," ujarnya.
Hasil yang disuguhkan Daud Wiryo kini sudah dikenal di mancanegara. Kreativitas ini harusnya bisa menjadi inspirasi bagi seniman batik maupun seniman lainnya agar berani berkarya dengan memanfaatkan berbagai bahan alami.(OMI/Ferry Aditri)
Batik yang dibuat pria berusia 54 tahun ini memiliki pewarnaan yang berbeda dari batik kebanyakan. Pebatik asal Desa Sidorejo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini berkarya dengan bahan alami, seperti daun sirih atau wortel. Kedua bahan tersebut menghasilkan tonjolan warna hijau dan merah. Ada pula hasil karyanya yang terbuat dari lumpur Lapindo dan minyak goreng. Bahkan salah satu bahannya harus direndam di sawah untuk mendapat warna yang diinginkan.
Motif yang dihasilkan keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini pun cenderung aneh. Dalam karyanya yang bersifat tematis, Daud kerap memasukkan peristiwa alam dan sosial. Misalnya, gempa bumi di Yogyakarta yang disimbolkan dengan mobil jeep pengangukut bantuan bagi korban.
Malahan, Daud pernah diperiksa pihak kepolisian karena menggambarkan dengan lengkap peristiwa Bom Bali di batik buatannya. Daud dianggap mengetahui perencanaan bom tersebut. Karya terbaru Daud yang mengikuti isi sosial dunia adalah motif tragedi kemanusiaan di Timur Tengah. Motif ini merupakan hasil dari pengamatan pada sejumlah foto.
Menurut seniman kreatif ini, pembuatan batik bertema tersebut memakan waktu tiga hingga tujuh bulan. Hal ini disebabkan proses pencarian dan pengolahan bahan yang membutuhkan waktu. Pengerjaannya pun membutuhkan waktu lama karena harus mencari ide dan cara menerjemahkannya lewat lukisan di atas kain. Tak heran bila harga yang ditawarkan juga sepadan alias agak mahal. "Saya harus membayar orang-orang yang membantu proses pengerjaan batik ini," ujarnya.
Hasil yang disuguhkan Daud Wiryo kini sudah dikenal di mancanegara. Kreativitas ini harusnya bisa menjadi inspirasi bagi seniman batik maupun seniman lainnya agar berani berkarya dengan memanfaatkan berbagai bahan alami.(OMI/Ferry Aditri)