Liputan6.com, Bangil: Mengukir telur burung kasuari atau onta, itulah keseharian I Nengah Padet di rumahnya di Kabupaten Bangil, Bali. Bagi pria 75 tahun ini, mengukir telur yang ukurannya lebih besar dari telur ayam atau bebek bukan sekadar hobi, namun sudah menjadi pekerjaan. Telur burung kasuari dibeli seharga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per butir. Saat ini, dia tengah memenuhi pesanan seorang kolektor seni.
Kepada reporter Liputan 6 SCTV Putu Setiawan, belum lama ini, Padet mengaku awalnya dia mengukir di atas batok kepada. Itu dilakukan sejak zaman pendudukan Jepang. Ia baru mengukir di telur kasuari ketika presiden Indonesia dijabat almarhum Soeharto.
Padet membutuhkan waktu sampai dua bulan untuk mengerjakan telur bertemakan pewayangan. Cukup lama, mengingat pekerjaan ini butuh kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Setelah jadi, setiap karya telur ukir Padet dijual antara Rp 3,5 juta hingga Rp 10 juta sesuai tingkat kesulitan ukiran. Karya Padet yang sudah meraih berbagai penghargaan seni ini kini dikoleksi pecinta seni dari dalam maupun luar negeri.(BOG)