Liputan6.com, Jakarta: Sudah beradab-adab tradisi Cina masuk ke Indonesia. Tak aneh bila sudah ada percampuran atau asimilasi budaya Melayu dan Cina. Salah satunya tergambar pada tradisi pernikahan Tionghoa peranakan. Biasanya, prosesi pernikahan khas Cina peranakan berlangsung selama tiga hari.
Hari pertama, dimulai dengan sembahyang. Pengantin wanita berdandan khusus. Baju warna hijau bertabur hiasan perak bergincu, kembang goyang, dan penempelan kertas berwarna merah berbentuk bulan sabit sebagai penanda kegadisan sang pengantin. Di hari berikutnya, pengantin wanita berganti baju warna merah muda sebagai simbol ia akan segera meninggalkan masa lajang.
Tibalah di hari ketiga atau hari H. Pengantin wanita menggunakan baju warna merah dan melaksanakan upacara chio-tau sebagai simbol peralihan dari lajang ke pernikahan. Muka pengantin wanita lantas ditutup selendang hijau dan bersiap bertemu dengan pengantin pria. Dilanjutkan dengan prosesi saweran.
Dan saat yang dinanti-nanti pun tiba. Pengantin pria menyibakkan selendang penutup muka pasangannya. Dia diizinkan melihat kecantikan sang tambatan hati. Sedangkan pengantin wanita membuka kancing baju pria sebagai tanda kedekatan pasangan suami istri. Sayang, prosesi pernikahan Tionghoa yang sudah bercampur budaya Melayu ini mulai tergerus zaman. Tidak banyak yang menjalankannya.(BOG/Sufiani Tanjung)