Petani Tanam Kedelai Sebagai Sampingan

Para petani di Desa Waru, Kabupaten Grobogan, Jateng, menenam kedelai sekali setahun dan sifatnya alternatif. Ini karena tidak adanya isentif dari pemerintah dan hasil yang didapat tak seberapa.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Januari 2008, 12:55 WIB

Liputan6.com, Grobogan:
Desa Waru, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, adalah salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. Namun petani di desa ini hanya menanam kedelai satu kali setahun dan sifatnya alternatif. Sebab hasil yang didapat dari menanam kedelai sangat sedikit dan tidak seberapa.

Reporter Liputan 6 SCTV Juanita Wiratmaja, Rabu (30/1) melaporkan, saat ini para petani tengah memasuki masa akhir panen kedelai. Namun setelah panen, mereka akan kembali menanami lahan pertanian dengan padi.

Para petani di Desa Waru memilih menanam kedelai sebagai sampingan karena tidak ada insentif dari pemerintah, seperi bibit dan pupuk. "Tidak ada bantuan dari pemerintah," kata Darto, salah seorang petani.

Darto menambahkan, untuk bibit kedelai, ia dan para petani lainnya membeli di toko seharga Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per kilogram. Ia mengaku biaya produksi kedelai cukup tinggi. Sementara hasilnya tidak seberapa. Apalagi, harga kedelai kini kembali turun.

Tarso, petani lainnya, mengaku tak mendapat keuntungan saat harga kedelai sempat naik menjadi Rp 7.500 per kilogram. Selain tidak ada insentif dari pemerintah, petani enggan menanam kedelai juga karena masalah cuaca dan adanya permainan harga di tingkat agen.

Di tengah tingginya harga kedelai impor, para petani di Grobogan telah lama mengembangkan kedelai lokal yang mutunya tidak kalah. Terlebih harganya juga murah. Sayang, pemerintah kurang perhatian atas usaha petani.(BOG)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya