Liputan6.com, Blitar: Ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali, dan berbagai daerah lain di Tanah Air menyesaki Alun-Alun Kota Blitar, Jawa Timur, Rabu (20/6) malam. Tujuannya, untuk mengikuti acara puncak peringatan seabad kelahiran dan Haul ke-31 mantan Presiden Sukarno. Hadir pula dalam acara tersebut Presiden Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri, Ketua Yayasan Pendidikan Bung Karno Rahmawati Sukarnoputri, sejumlah menteri, dan pejabat negara lainnya.
Dalam sambutannya, Gus Dur mengatakan, Bung Karno --Sukarno biasa disapa-- adalah milik rakyat, bangsa Indonesia dan bukan milik keluarga Sukarno saja. Sebab itu, menurut Gus Dur, ajaran Bung Karno mengenai persatuan dan kemerdekaan bangsa harus dihormati dan dijunjung tinggi. Selain itu, Gus Dur menerangkan, dirinya juga dibesarkan dalam tradisi keluarga yang harus menghormati keluarga Bung Karno. "Tradisi itu diwariskan sejak jaman kakek saya," kata Gus Dur.
Namun, saat Gus Dur menyampaikan kata sambutan, sempat terdengar teriakan Mega! Mega! Mega!. Tindakan sekelompok peserta haul itu membuat Gus Dur berang. Bahkan, Gus Dur sempat memperingatkan agar mereka diam. "Tindakan itu sama dengan melecehkan dan tak menghormati Bu Mega," kata Gus Dur sambil mengacungkan jarinya ke arah suara.
Sedangkan saat memberi sambutan, Megawati mengatakan, perjuangan Bung Karno mengenai kemerdekaan, persatuan dan kesatuan bangsa harus diteruskan. Selain itu, ia juga menyampaikan agar semua lapisan masyarakat dapat saling menjaga kerukunan. "Jangan sampai kita mudah terprovokasi ulah kelompok masyarakat yang ingin memecah belah bangsa," kata Megawati.
Sementara itu, Ketua Yayasan Bung Karno Rahmawati Sukarnoputri mengatakan, peringatan kali ini menjadi terasa istimewa, karena juga dihadiri Presiden dan Wakil Presiden. "Untuk itu sebagai wakil dari keluarga Bung Karno, saya mengucapkan terima kasih," kata Rahmawati dari atas podium. Selanjutnya, Rahmawati mengatakan, haul semata-mata hanya untuk mengenang perjuangan seorang pemimpin yang berdiri di atas semua golongan. "Baik itu kaum nasionalis religius maupun relegius nasionalis," ujar Rahmawati.
Di samping itu, Rahmawati juga berharap, pemerintah segera mencabut TAP MPRS Nonor XXXIII/1967. Sebab, tap tersebut secara substantif merugikan nama baik Bung Karno. Selain itu, Rahmawati juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melaksanakan amanah yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Dalam sambutannya, Gus Dur mengatakan, Bung Karno --Sukarno biasa disapa-- adalah milik rakyat, bangsa Indonesia dan bukan milik keluarga Sukarno saja. Sebab itu, menurut Gus Dur, ajaran Bung Karno mengenai persatuan dan kemerdekaan bangsa harus dihormati dan dijunjung tinggi. Selain itu, Gus Dur menerangkan, dirinya juga dibesarkan dalam tradisi keluarga yang harus menghormati keluarga Bung Karno. "Tradisi itu diwariskan sejak jaman kakek saya," kata Gus Dur.
Namun, saat Gus Dur menyampaikan kata sambutan, sempat terdengar teriakan Mega! Mega! Mega!. Tindakan sekelompok peserta haul itu membuat Gus Dur berang. Bahkan, Gus Dur sempat memperingatkan agar mereka diam. "Tindakan itu sama dengan melecehkan dan tak menghormati Bu Mega," kata Gus Dur sambil mengacungkan jarinya ke arah suara.
Sedangkan saat memberi sambutan, Megawati mengatakan, perjuangan Bung Karno mengenai kemerdekaan, persatuan dan kesatuan bangsa harus diteruskan. Selain itu, ia juga menyampaikan agar semua lapisan masyarakat dapat saling menjaga kerukunan. "Jangan sampai kita mudah terprovokasi ulah kelompok masyarakat yang ingin memecah belah bangsa," kata Megawati.
Sementara itu, Ketua Yayasan Bung Karno Rahmawati Sukarnoputri mengatakan, peringatan kali ini menjadi terasa istimewa, karena juga dihadiri Presiden dan Wakil Presiden. "Untuk itu sebagai wakil dari keluarga Bung Karno, saya mengucapkan terima kasih," kata Rahmawati dari atas podium. Selanjutnya, Rahmawati mengatakan, haul semata-mata hanya untuk mengenang perjuangan seorang pemimpin yang berdiri di atas semua golongan. "Baik itu kaum nasionalis religius maupun relegius nasionalis," ujar Rahmawati.
Di samping itu, Rahmawati juga berharap, pemerintah segera mencabut TAP MPRS Nonor XXXIII/1967. Sebab, tap tersebut secara substantif merugikan nama baik Bung Karno. Selain itu, Rahmawati juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melaksanakan amanah yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)