Alat Pendeteksi Tsunami Belum Berfungsi Optimal

Tsunami Early Warning System berfungsi untuk mendeteksi bakal adanya bencana alam seperti gempa dan tsunami. Namun, alat yang dipasang di perairan rawan gempa ini sempat dicuri sehingga tidak berfungsi optimal.

oleh Liputan6Diterbitkan 13 September 2007, 14:51 WIB

Liputan6.com, Jakarta: Ancaman bencana alam seperti gempa dan tsunami masih berpotensi terjadi di Indonesia. Upaya untuk peringatan dini sudah dilakukan. Di antaranya dengan peralatan peringatan dini tsunami atau Tsunami Early Warning System yang diberikan pemerintah Jerman akhir 2005 silam atau pascabencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam [baca: Bantuan Pendeteksi Tsunami Tiba].

Tsunami Early Warning System merupakan peralatan pendeteksi gejala alam, terutama di bawah laut. Data-data yang ditangkap alat pendeteksi ini dikirim ke pusat kendali di Jakarta guna diteruskan ke lokasi yang terjadi bencana.

Selain untuk mendeteksi bakal adanya tsunami, peralatan ini juga bisa menjadi bagian sistem yang lebih luas atau menjadi sistem peringatan gempa atau bencana alam lainnya. Manfaat peralatan ini juga bisa dirasakan oleh kawasan lain di wilayah Samudra Hindia dan di sepanjang wilayah Sumatra bagian Barat hingga Selat Sunda, termasuk wilayah yang rawan gempa.

Namun sayang, peralatan yang begitu penting ini masih belum dipahami banyak orang. Tangan-tangan jahil membawa peralatan ini dari tengah laut untuk kemudian dijual. Meski bisa ditemukan, sistem pendeteksi masih belum bisa dioperasikan lagi secara optimal. Akibatnya warga terlambat mendapat peringatan dini akan adanya tsunami pada peristiwa gempa di Bengkulu, kemarin petang [baca: BMG: Kepastian Tsunami Diketahui Pukul 20.00 WIB].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya