Liputan6.com, Parapat: Parapat, Sumatra Utara, 1948. Pemerintah Belanda mengasingkan Presiden Sukarno dan Haji Agus Salim ke kota wisata itu selama kurang lebih dua bulan. Keduanya ditempatkan di pesanggerahan milik perkebunan Belanda bernama Marihat. Hingga kini, nama Marihat melekat erat pada pesanggerahan yang sekarang menjadi milik Pemerintah Daerah Sumut.
Sayang, menurut Pimpinan Pesanggrahan Marihat Parapat Misdi, tak banyak catatan yang tertinggal selama Bung Karno menjalani pengasingan di tempat ini. Dari sejumlah peralatan yang pernah dipakai Bung Karno di pesanggerahan yang berada di lokasi strategis dan menghadap ke danau itu kini hanya tinggal satu set kursi tamu terbuat dari rotan.
Selama bertugas belasan tahun di pesanggerahan ini, Misdi baru sekali merasakan pengalaman aneh, tepatnya pada tahun 1989. Sat itu, ia bermaksud membersihkan kamar yang dulu dipakai Bung Karno.
Ia melihat sesosok bayangan pria mengenakan piyama mirip Bung arno berdiri dekat jendela dan menghadap ke arah danau. Tapi saat ia sadar bahwa tak ada tamu yang menghuni kamar itu bayangan itu lenyap.(RSB/Panogari Panggabean dan Amal Rambe)
Sayang, menurut Pimpinan Pesanggrahan Marihat Parapat Misdi, tak banyak catatan yang tertinggal selama Bung Karno menjalani pengasingan di tempat ini. Dari sejumlah peralatan yang pernah dipakai Bung Karno di pesanggerahan yang berada di lokasi strategis dan menghadap ke danau itu kini hanya tinggal satu set kursi tamu terbuat dari rotan.
Selama bertugas belasan tahun di pesanggerahan ini, Misdi baru sekali merasakan pengalaman aneh, tepatnya pada tahun 1989. Sat itu, ia bermaksud membersihkan kamar yang dulu dipakai Bung Karno.
Ia melihat sesosok bayangan pria mengenakan piyama mirip Bung arno berdiri dekat jendela dan menghadap ke arah danau. Tapi saat ia sadar bahwa tak ada tamu yang menghuni kamar itu bayangan itu lenyap.(RSB/Panogari Panggabean dan Amal Rambe)