Gunung Gamkonora Masih Mengeluarkan Asap Tebal

Gunung Gamkonora masih menyemburkan asap tebal meski ketinggiannya sudah berkurang. Adapun warga Kecamatan Ibu Selatan di Kabupaten Halmahera Barat, masih terus mengungsi menghindari dampak letusan gunung berapi tersebut.

oleh Liputan6Diterbitkan 10 Juli 2007, 12:21 WIB
Liputan6.com, Halmahera Barat: Gunung Gamkonora masih mengeluarkan asap tebal hingga Selasa (10/7) siang. Kendati demikian, ketinggian semburan asap sudah berkurang. Ini artinya aktivitas gunung berapi di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, tersebut telah berkurang meski statusnya masih dalam keadaan waspada.

Gunung di Kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat, itu meletus kemarin petang sekitar pukul 15.00 WIT. Selain menyemburkan kepulan asap tebal bercampur debu setinggi sembilan ratus meter, kawah Gunung Gamkonora juga mengeluarkan lava panas. Dan sesaat setelah letusan, ribuan warga dari 10 desa yang berada di kaki gunung tersebut segera menyelamatkan diri. Ini lantaran desa mereka dilanda hujan abu [baca: Gamkonora Meletus, Warga 10 Desa Mengungsi].

Tanda-tanda meletusnya Gunung Gamkonora sudah dirasakan penduduk setempat sejak Ahad silam. Gunung berapi setinggi 1.653 meter di atas permukaan laut ini mulai mengeluarkan suara gemuruh yang disertai gempa tektonik sebanyak tujuh kali setiap harinya.

Saat ini aktivitas gunung sudah mengalami penurunan yang ditandai dengan berkurangnya ketinggian asap tebal yang berasal dari kawah. Namun ribuan penduduk sekitar masih mengungsi. Sebab gempa kecil masih terjadi antara tiga hingga lima kali per hari.

Usai letusan kemarin petang, ribuan warga dari sepuluh desa di Kecamatan Ibu Selatan yang berada di kaki Gunung Gamkonora panik. Mereka terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari semburan asap bercampur debu panas. Gelombang pengungsian hingga siang ini terus berlangsung karena semburan debu panas masih terjadi meskipun tidak sebesar kemarin.

Kepanikan warga bertambah ketika transportasi yang akan mengangkut mereka tidak ada. Sebuah truk milik warga pun langsung dipenuhi pengungsi. Bagi warga yang tidak terangkut kendaraan mereka terpaksa harus berjalan kaki untuk menjauhi puncak gunung. Ibu-ibu pun harus menggendong anaknya berjalan kaki menempuh perjalanan hingga belasan kilometer.

Diperkirakan, sekitar dua ribu warga yang tinggal di lereng Gunung Gamkonora sebagian besar mengungsi. Tapi sejauh ini, pemerintah daerah belum turun tangan membantu evakuasi warga. Padahal, kondisi ini telah diperkirakan sebelumnya. Dengan kata lain, pemda dianggap lamban menangani gelombang pengungsian warganya.

Dalam waktu yang bersamaan, Gunung Gamalama di Ternate, Maluku Utara, juga mengeluarkan semburan awan panas. Bahkan, pihak Badan Vulkanologi dan Geofisika Ternate telah menetapkan status waspada. Walau demikian, sejauh ini belum terlihat adanya gelombang pengungsian [baca: Dua Gunung di Maluku Utara Menyemburkan Asap].(ANS/Sawaludin Damopolii)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya