Liputan6.com, Jakarta: Dua orang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Irak melaporkan perusahaan yang memberangkatkan mereka ke Kepolisian Daerah Metro Jaya, Senin (2/7). Menurut Stephen Latu, salah seorang TKI, ia dipekerjakan di bisnis konstruksi selama lebih dari satu tahun. Selama berada di Irak perasaannya selalu dicekam ketakutan lantaran Victory Camp yang menjadi tempat tinggalnya sering diserang kelompok tak dikenal.
Stephen juga mengatakan, selama bekerja di Irak, perusahaan yang memberangkatkan dirinya, PT North Java Sea Group, memotong 2,5 persen gaji untuk asuransi. Namun, perusahaan yang dipimpin Ranjit S Randawa itu tak pernah memberikan bukti pembayaran. Uang para TKI pun tak jelas penempatannya. Beberapa orang TKI bahkan belum pernah dibayar selama bekerja di Irak.
Stephen sendiri menaruh curiga dengan keberadaan PT North Java Sea Group. Pasalnya, ketia ia memeriksa data perusahaan tersebut ke Departemen Tenaga Kerja, perusahaan yang beralamat di Cilandak Dalam No 53 itu tidak terdaftar.
Saat ini terdapat 102 orang pekerja Indonesia yang bekerja di Baghdad, Irak. Sebanyak 12 orang di antaranya berada di zona merah yang rawan bahaya. Mereka dalam kondisi yang terancam setiap saat, karena di Irak, ledakan bom dan kematian yang sia-sia seolah sudah biasa.(ADO/Yoga Andika Satria dan Adi Amir)
Stephen juga mengatakan, selama bekerja di Irak, perusahaan yang memberangkatkan dirinya, PT North Java Sea Group, memotong 2,5 persen gaji untuk asuransi. Namun, perusahaan yang dipimpin Ranjit S Randawa itu tak pernah memberikan bukti pembayaran. Uang para TKI pun tak jelas penempatannya. Beberapa orang TKI bahkan belum pernah dibayar selama bekerja di Irak.
Stephen sendiri menaruh curiga dengan keberadaan PT North Java Sea Group. Pasalnya, ketia ia memeriksa data perusahaan tersebut ke Departemen Tenaga Kerja, perusahaan yang beralamat di Cilandak Dalam No 53 itu tidak terdaftar.
Saat ini terdapat 102 orang pekerja Indonesia yang bekerja di Baghdad, Irak. Sebanyak 12 orang di antaranya berada di zona merah yang rawan bahaya. Mereka dalam kondisi yang terancam setiap saat, karena di Irak, ledakan bom dan kematian yang sia-sia seolah sudah biasa.(ADO/Yoga Andika Satria dan Adi Amir)