Tri Mumpuni Wiyatno, Dewi Surya Kampung Terpencil

Tri Mumpuni Wiyatno bersama tim IBEKA berhasil menerangi 60 desa terpencil dengan teknologi ramah lingkungan mikrohidro. Teknologi ini memanfaatkan debit dan ketinggian jatuhnya air.

oleh Liputan6Diterbitkan 21 April 2007, 07:05 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Peranan kaum wanita dalam membangun negeri ini sudah tak diragukan lagi. Seiring berjalannya waktu, mereka juga terus membuktikan sumbangsihnya dengan menampilkan berbagai karya nyata mereka. Salah satu di antaranya adalah Ibu Tri Mumpuni Wiyatno, wanita yang telah membuat puluhan desa terpencil memperoleh penerangan listrik.

Perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan sosial ekonomi 1990 ini hadir bagai dewi surya bagi penduduk kampung terpencil. Dengan keyakinan desa adalah sumber kehidupan yang harus diperkuat kemandiriannya, Tri lalu mencurahkan segenap daya dan pemikirannya untuk membangun desa.

Bersama timnya Institut Bisnis Kerakyatan (IBEKA), ia melihat bahwa menerangi desa dengan teknologi ramah lingkungan mikrohidro merupakan pintu masuk paling efektif untuk memberdayakan warga desa. Apalagi sumber daya teknologi ini tergolong gampang didapat yakni memanfaatkan debit dan ketinggian jatuhnya air di sungai kecil yang ada di desa-desa terpencil. Kebetulan pula Iskandar Kuntoadji, suaminya merupakan ahli listrik mikrohidro sehingga rencana ini bisa terealisasikan.

Pada prinsipnya pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang dibangun Tri merupakan milik warga desa karena dikelola oleh warga dan untuk warga. Mereka dilatih manajemen air, pemeliharaan alat, menghitung energi yang disalurkan, serta biaya yang diperlukan. Dengan prinsip inilah, Tri dengan penuh keyakinan melobi pemerintah, warga-warga desa, yayasan, dan badan-badan internasional serta sejumlah donatur untuk membantunya mendirikan PLTMH.

Kini sekitar 60 desa di Tanah Air menikmati fasilitas listrik yang digagas perempuan ini. Bahkan konsep listrik pedesaan Tri juga menjadi proyek percontohan yang dikembangkan di negara-negara lain oleh Badan Sosial dan Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia Pasifik.

Atas prestasinya ini, World Wildlife Fund (WWF), sebuah organisasi lingkungan hidup kelas dunia menganugerahinya penghargaan climate hero. Dari dalam negeri, majalah Tempo menobatkannya sebagai tokoh terpilih dari 10 tokoh pilihan 2006 yang mampu mengubah dunia. Meski demikian, ibu dua anak ini tetaplah wanita Indonesia yang bersahaja. Keberpihakan kepada kaum terpinggirkan tetap akan selalu menjadi komitmen hidupnya.

Saat ini kiprah perempuan di negeri ini memang makin menunjukkan geliatnya. Selain kiprah Tri di atas, kaum hawa bahkan tak segan pula untuk menggeluti olahraga keras tinju yang sebelumnya identik dengan kaum lelaki. Padahal era Soeharto, tinju wanita sempat dilarang. Sekarang sejumlah petinju wanita tengah bersiap-siap di pelatnas untuk berlaga di SEA Games di Bangkok, Thailand, Desember mendatang.

Para petinju wanita itu berlatih di pintu enam Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta. Di atas ring, mereka mungkin perkasa, tapi kondisi berbeda dijumpai saat mereka berada di hotel atlet tempat pemusatan tim pelatnas.

Naluri kewanitaan begitu kental dalam keseharian mereka seperti terlihat pada Nurmala dan Susana, dua petinju wanita. Busana yang dikenakan begitu feminin. Tak ada kesan kalau mereka adalah petinju. Menggeluti olahraga tinju agaknya sudah menjadi pilihan wanita-wanita ini. Siapa tahu akan lahir Layla Ali baru dari Indonesia, putri petinju legendaris Muhamad Ali yang juga juara dunia tinju.

Di Solo, Jawa Tengah, para ibu lanjut usia tak ketinggalan untuk memperingati Hari Kartini. Bersama-sama mereka mencoba menarik sebuah lokomotif berikut satu gerbong di Jalan Slamet Riyadi. Tak dinyana lokomotif serta gerbong seberat sekitar tujuh ton itu berhasil digerakkan.

Entah relevan atau tidak, tarik lokomotif ternyata merupakan rangkaian acara memperingati hari kelahiran tokoh emansipasi wanita. Tampaknya ibu-ibu ini ingin membuktikan bahwa mereka bukan kaum yang lemah. Demi menegaskan tekad untuk tidak melupakan perjuangan Kartini, ibu-ibu ini juga menyanyikan lagu-lagu R.A. Kartini.

Sementara itu, menjelang perayaan Hari Kartini, sejumlah salon dan butik penyewaan kebaya serta baju tradisional juga laris manis diserbu para ibu beserta anak-anaknya, terutama anak perempuan. Para anak-anak ini ingin ikut lomba berpakaian tradisional. Hal ini memang sudah pemandangan khas menjelang atau tiap 21 April. Untungnya kerepotan berpakaian tradisional terbantu oleh salon tadi.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya