Liputan6.com, Tokyo: Era modern seperti sekarang ini penggunaan plastik sebagai tempat untuk membawa dan membungkus benda sudah jamak dilakukan. Meski harus diakui penggunaan plastik menyisakan masalah lingkungan. Berangkat dari masalah ini, sebagian masyarakat Jepang mulai melirik cara lama untuk membawa barang yaitu membungkus barang dengan kain, furoshiki.
Seni membungkus benda dengan kain ini kembali dilirik lagi seiring meningkatnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dari sampah plastik serta menghemat pemakaian kertas. Dahulu furoshiki lazim digunakan sehari-hari, mulai dari membungkus botol hingga buah-buahan. Bahkan para wanita Jepang zaman dulu kerap memadukannya dengan motif kimono yang mereka kenakan. Kain furoshiki dapat digunakan berulang kali dan bila kotor tinggal dicuci.
Berkat kelebihannya, pihak Kementerian Lingkungan Negara Sakura pun mendukung kampanye pemakaian ini, yang disambut pula dengan antusias. Mieko Hibi, misalnya, kini lebih memilih membawa kain furoshiki ke mana pun pergi. Ia tak lagi menggunakan kantung plastik karena selembar furoshiki sudah cukup untuk membawa belanjaannya.
Furoshiki juga bisa dibentuk menjadi pembungkus yang indah. Namun menggunakan furoshiki tidak semudah kelihatannya. Salah-salah simpul ikatan tak bisa dilepaskan. Namun tak perlu bingung sebab ada tempat-tempat kursus yang siap mengajarkan cara memakai furoshiki.
Kini bermacam kain furoshiki telah tersedia di toko. Untuk menggaet minat kalangan muda, pembuatnya malahan menyediakan pula kain dengan gambar tokoh-tokoh kartun populer. Tradisi Jepang kuno ini mengajarkan kearifan bahwa membungkus suatu benda bisa dilakukan dengan indah tanpa merusak lingkungan.(MAK)
Seni membungkus benda dengan kain ini kembali dilirik lagi seiring meningkatnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dari sampah plastik serta menghemat pemakaian kertas. Dahulu furoshiki lazim digunakan sehari-hari, mulai dari membungkus botol hingga buah-buahan. Bahkan para wanita Jepang zaman dulu kerap memadukannya dengan motif kimono yang mereka kenakan. Kain furoshiki dapat digunakan berulang kali dan bila kotor tinggal dicuci.
Berkat kelebihannya, pihak Kementerian Lingkungan Negara Sakura pun mendukung kampanye pemakaian ini, yang disambut pula dengan antusias. Mieko Hibi, misalnya, kini lebih memilih membawa kain furoshiki ke mana pun pergi. Ia tak lagi menggunakan kantung plastik karena selembar furoshiki sudah cukup untuk membawa belanjaannya.
Furoshiki juga bisa dibentuk menjadi pembungkus yang indah. Namun menggunakan furoshiki tidak semudah kelihatannya. Salah-salah simpul ikatan tak bisa dilepaskan. Namun tak perlu bingung sebab ada tempat-tempat kursus yang siap mengajarkan cara memakai furoshiki.
Kini bermacam kain furoshiki telah tersedia di toko. Untuk menggaet minat kalangan muda, pembuatnya malahan menyediakan pula kain dengan gambar tokoh-tokoh kartun populer. Tradisi Jepang kuno ini mengajarkan kearifan bahwa membungkus suatu benda bisa dilakukan dengan indah tanpa merusak lingkungan.(MAK)