Republik Berduka

Dua musibah terjadi secara beruntun dalam dua hari terakhir. Terbakarnya pesawat Garuda GA 200 belum diketahui pasti penyebabnya. Adapun Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi membantah penanganan gempa di bawah standar.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 Maret 2007, 02:45 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Dunia transportasi di Tanah Air kembali dilanda musibah. Pesawat Garuda GA 200 terbakar di sisi timur landasan pacu Bandar Udara Adi Sucipto, Yogyakarta. Data SCTV merangkum, sebanyak 96 dari 133 penumpang selamat dan kini dirawat di sejumlah rumah sakit di Yogyakarta. Sedangkan 21 lainnya meninggal di tempat, seorang di antaranya tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. Adapun sisanya belum diketahui nasibnya.

Ke-21 mayat itu berada di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito, empat di antaranya sudah diidentifikasi. Mereka bisa diketahui dari catatan medik yakni giginya, barang-barang yang tertinggal serta ciri-ciri terakhir yang diungkapkan keluarga korban. Sisanya sulit dikenali karena jasadnya sudah tak utuh lagi.

Jumlah korban kecelakaan pesawat Garuda GA 200 sejauh ini memang simpang siur. Komandan Lapangan Udara Adi Sucipto Marsekal Pertama Benjamin Dandel melansir ada 44 jenazah yang masih tertinggal di badan pesawat. Sedangkan tim evakuasi sudah menemukan 20 orang tewas. Adapun data dari pihak Garuda menyebutkan 22 orang meninggal .

Ketua Asosiasi Pilot Garuda Stephanus G.S. belum mengetahui penyebab pasti kecelakaan pesawat Boeing 737 400 tersebut. Pasalnya pesawat jatuh di tengah kondisi cuaca yang bagus dan konfigurasi landing dalam status normal. Ia mengakui, lebih dari 80 persen kecelakaan terjadi karena faktor manusia. Karena itu banyak faktor yang menjadi penyebabnya. "Secara keseluruhan kami bergantung pada tim yang diakui pemerintah, dalam hal ini KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi)," ujar dia kepada reporter SCTV Rosianna Silalahi di ujung telepon dalam acara Topik Minggu Ini di Jakarta, Rabu (7/3).

Pernyataan itu disampaikan usai Stephanus menemui Kapten Pilot Marwoto Komar. "Kedatangan kami untuk menenangkan beliau (Marwoto)," kata dia. Stephanus mengatakan, tak banyak poin yang bisa diambil untuk mengungkap penyebab kecelakaan dalam pembicaraan dengan Marwoto.

Duka juga dirasakan warga di Kabupaten Padang, Sumatra Barat, yang dilanda gempa berkekuatan 5,8 skala Richter. Perawat, dokter, pasien, dan pengunjung di sejumlah rumah sakit berhamburan menyelamatkan diri. Para siswa sekolah juga panik sehingga berhamburan keluar ruangan. Anak-anak sekolah berlarian mencari orang tua mereka.

Badan Meteorologi dan Geofisika mencatat, gempa terjadi dua kali. Pertama pada pukul 10.50 WIB. Gempa kedua terjadi selang dua jam kemudian, yakni pukul 12.50 WIB. Kedua gempa berkekuatan 5,8 skala Richter. Pusat gempa berada di sekitar 12 kilometer barat daya Batusangkar . Berbeda dengan yang tercatat pusat gempa Amerika Serikat yakni mencapai 6,2 skala Richter.

Kehancuran paling parah terjadi di kota dan Kabupaten Solok sekitar dua jam perjalanan dari ibu kota provinsi, Padang. Jumlah korban tewas hingga saat ini mencapai 73 orang dan 161 lainnya luka berat [baca: ].

Adapun warga yang selamat masih mendiami sejumlah tenda darurat, yakni di sepanjang Kota Solok, Singkarak, hingga Kota Padang Panjang. Mereka mengaku belum mendapat bantuan makanan, khususnya selimut yang sangat dibutuhkan. Ironisnya lagi, mereka sudah menerima bantuan berupa biskuit dan mi instan, tapi itu pun sudah kedaluwarsa [baca: ].

Menyikapi hal itu, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi membantah penanganan bencana masih di bawah standar. "Kalau kasus satu atau dua tidak boleh mengeneralisir," tutur dia melalui telepon kepada Rosianna. Ia menambahkan, faktor itu disebabkan karena kurangnya koordinasi yang baik. "Bisa saja beberapa dus mi sampai ke bupati kemudian tanpa koreksi didistribusikan ke satu atau dua lokasi," ucap Gamawan.

Sejak awal tahun 2007, bencana terjadi seolah tanpa henti. Dua tragedi dalam dua hari terakhir ini membuka kita dan membuat kita kembali berduka. Akankah kita siap menghadapi bencana yang akan terjadi ke depannya? Semoga cukup sampai di sini.(AIS)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya