Downer: Insiden Garuda Kecelakaan Biasa

Menlu Australia Alexander Downer tak melihat adanya unsur sabotase terhadap Pesawat Garuda GA 200 yang terbakar di tengah landasan Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Pemerintah Australia sedang mengirim bantuan.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 Maret 2007, 20:48 WIB
Liputan6.com, Yogyakarta: Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer tidak melihat adanya unsur sabotase terhadap Pesawat Garuda GA 200 yang terbakar di tengah landasan Bandar Udara Adi Sucipto, Yogyakarta. "Dari yang terlihat sekarang, itu sepenuhnya kecelakaan biasa," ujar Downer di Yogyakarta, Rabu (7/3).

Pernyataan Downer terkait dengan jalannya penyelidikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo A.S. dari aspek nonteknis terhadap kecelakaan tersebut. Tugas ini atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan melalui Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi [].

Sementara Kepala Polri Jenderal Polisi Sutanto mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan tim untuk merespons permintaan Presiden Yudhoyono. Tim nantinya akan dibantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Seiring dengan itu Perdana Menteri John Howard menepati janji mengirim bantuan bagi para korban Garuda GA 200. Saat ini tim tanggap darurat Australia beranggotakan tim medis, telah terbang menuju Indonesia dari Bandara Internasional Canberra menggunakan pesawat milik Angkatan Udara Australia. Diperkirakan mereka tiba malam ini.

Pemerintah Negeri Kanguru juga mengirimkan tim medis Angkatan Bersenjata Australia bersama tim dari Kepolisian Federal Australia. Mereka yang diperkirakan tiba besok pagi bertugas membantu mengidentifikasi para korban.

Saat ini enam dari tujuh awak pesawat Garuda GA 200 lolos dari maut, termasuk Kapten Pilot Marwoto Komar dan pramugari senior Mariati. Dan keluarga masing-masing korban, termasuk keluarga Marwoto sudah berangkat ke Kota Gudeg untuk memastikan kabar tersebut. Mereka cemas karena sejak siang tadi belum mengetahui nasib Marwoto.

Pihak keluarga termasuk Norma, istri Marwoto berangkat dari rumah duka di kawasan Pondok Cibubur, Cisalak, Bogor, Jawa Barat, untuk memastikan kondisi sang pilot. Marwoto sudah bergabung di Garuda Indonesia selama 21 tahun dan telah mengantongi lebih dari 14 ribu jam terbang.

Berbeda dengan keluarga Marwoto. Keluarga Mariati tak menunggu lama mengetahui kabar sang pramugari. Soalnya beberapa saat setelah pesawat terbakar, Mariati langsung menelepon Yusrita, kakaknya di Jakarta. Korban telah menjadi pramugari Garuda Indonesia selama 17 tahun. Ia pernah menerima penghargaan setelah mengoleksi sepuluh ribu jam terbang.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya