Menjelang Imlek di Klenteng Kim Tek Ie

Sejak kemarin petang, warga keturunan Tionghoa meramaikan kelenteng di kawasan Glodok, Jakbar itu untuk berdoa. Di Tangerang, Banten, sebuah keluarga merayakan Imlek dalam kondisi sederhana, tanpa kue, pohon rezeki dan tiada baju baru.

oleh Liputan6Diterbitkan 18 Februari 2007, 05:37 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Ahad ini (18/2) bertepatan dengan Hari Raya Imlek atau hari pertama tahun baru menurut penanggalan Cina. Menyambut perayaan Imlek Tahun 2558, warga keturunan Tionghoa sejak kemarin petang sudah meramaikan kelenteng untuk berdoa. Mereka berharap rezeki tahun ini akan lebih baik dari tahun silam. Salah satu kelenteng yang selalu ramai dikunjungi warga untuk berdoa adalah Kelenteng Kim Tek Ie di bilangan Glodok, Jakarta Barat.

Atraksi barongsai turut mewarnai perayaan Imlek di klenteng tersebut. Tarian lincah barongsai mengikuti tabuhan genderang sehingga menarik perhatian pengunjung. Dua barongsai itu didatangkan ke klenteng untuk meminta berkah dari Sang Dewa, sebelum memulai perayaan Imlek.

Perayaan Imlek di klenteng tua itu sebenarnya tak jauh berbeda dengan perayaan serupa pada tahun sebelumnya. Hanya saja, kali ini jumlah pengemis yang memadati halaman klenteng jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya. Ribuan pengemis sudah berkumpul di halaman klenteng sejak pagi hari, hanya untuk mendapat angpau dari para dermawan.

Sementara di dalam klenteng, warga etnis Tionghoa baik tua maupun muda, khusyuk melakukan sembahyang Imlek. Mereka mensyukuri atas rezeki yang dilimpahkan serta memohon perlindungan dari segala bahaya. Mereka berharap tahun ini akan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Imlek adalah waktu yang dinanti-nantikan warga keturunan Tionghoa. Tahun Baru Cina itu sekaligus menjadi ajang berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Tak mengherankan, bila kesempatan yang datang sekali dalam satu tahun ini disambut dengan meriah.

Namun, semua itu hanya berlaku bagi mereka yang mampu. Sedangkan bagi keluarga yang kurang mampu, perayaan Imlek harus dilalui layaknya hari-hari lainnya. Tanpa hidangan istimewa dan jauh dari kesan meriah.

Vina satu di antara yang terpaksa melewatkan Imlek dalam kondisi serba prihatin. Sambil menggendong Aurelia--putrinya yang berusia satu bulan, Vina juga menyimpan angan bisa menyambut Imlek dengan meriah.

Akan tetapi, asa itu harus ia singkirkan mengingat keterbatasan perekonomian keluarganya. Uang sebesar Rp 40 ribu yang diterima dari upah Erwin, suaminya, sebagai tukang potong babi, tak cukup untuk membeli pernak-pernik hiasan Imlek.

Bagi Vina, Imlek tetaplah tradisi yang harus dilestarikan tanpa harus terpengaruh kondisi keuangan. Yang terpenting, imbuh dia, hati bersih untuk memulai tahun baru dengan lebih baik ketimbang tahun silam.

Vina pun tak berencana pergi ke klenteng untuk bersembahyang karena harus mengeluarkan ongkos transportasi. Sebagai gantinya ia memilih pergi ke rumah orang tuanya dan berdoa bersama di sana, berharap rezeki di tahun baru ini.

Sementara di Klenteng Boen Tek Bio, ribuan orang datang silih berganti untuk bersembahyang. Mereka berharap di tahun babi ini segala sesuatunya akan lebih baik.

Oey Tjin Eng, pengurus klenteng, memperkirakan jumlah umat yang bersembahyang lebih banyak dibanding pada tahun lalu yang berjumlah sekitar 2.000 orang. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pihak klenteng juga menyajikan hiburan atraksi barongsai.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya