Nelayan Melihat Adam Air Melintasi Perairan Mamuju

Seorang nelayan sempat melihat pesawat Adam Air melintas dan terbang oleng di perairan Mamuju sebelum kemudian hilang dan disusul gemuruh. Sebuah logam terdeteksi di kedalaman 400 meter di bawah permukaan laut.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 Januari 2007, 20:10 WIB
Liputan6.com, Mamuju: Setelah dilakukan pencarian selama beberapa hari baik melalui jalur darat, laut dan udara, titik terang keberadaan pesawat Adam Air sedikit terkuak. Seorang nelayan sempat melihat pesawat yang mengangkut 102 orang itu melintas dan terbang rendah dengan kondisi oleng di perairan Mamuju, Sulawesi Barat.

Nelayan bernama Baharudin itu mengatakan, pesawat melintas persis di atas perahunya sekitar pukul 14.00 WITA. Cuaca saat itu dalam kondisi mendung disertai angin kencang. Pesawat kemudian berbelok ke arah Pulau Mamuju. Tak berapa lama pesawat hilang karena tertutup awan gelap disusul suara gemuruh dan ledakan.

Kesaksian Baharudin diungkapkan Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Gatot Sudianto di Makassar, Sulawesi Selatam, Senin (8/1) siang. Menurut Gatot, kesaksian Baharudin diperoleh saat dimintai keterangan oleh awak Kapal Republik Indonesia Fatahilah yang tengah mencari badan pesawat Adam Air.

Gatot menambahkan, sejumlah KRI telah dikerahkan ke lokasi yang dimaksud. Melalui peralatan sonar, kapal menangkap ada semacam logam di kedalaman 400 meter di bawah permukaan laut. Namun karena keterbatasan alat, kapal tak mampu menangkap bentuk logam itu. "Hanya bisa mendeteksi di dasar laut ada logam," kata Gatot.

Rencananya, besok, kapal milik AL Amerika Serikat USNS Mary Sears membantu mencari ke lokasi pesawat terakhir terlihat. Kapal ini telah memasuki wilayah perairan Indonesia.

Informasi mengenai keberadaan Adam Air itu bukanlah yang pertama. Sudah banyak kesaksian masyarakat atas pesawat nahas ini. Ternyata dari beberapa kali penelusuran, sejauh ini belum menunjukkan hasil seperti yang diinformasikan sebelumnya. Di antaranya isu penemuan pesawat Adam Air di Desa Rangoan, Polewali Mandar, Sulbar [baca: Pesawat Adam Air Ditemukan, 90 Tewas].

Sedikitnya empat pesawat hari ini dikerahkan mencari Adam Air, salah satunya milik Angkatan Udara Singapura. Pesawat jenis Foker 50 ini terbang dengan kecepatan rendah di atas seribu kaki menyisiri kawasan Teluk Bone. Pesawat dilengkapi infra merah yang mampu mendeteksi hot spot atau logam. Infra merah diletakkan di bawah sayap pesawat. Namun setelah empat jam terbang tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan pesawat Adam Air.

Sementara di darat, pencarian dilakukan tim SAR dan warga di sekitar pegunungan di Polewali. Pencarian difokuskan pada setiap desa terpencil dan hutan di sekitar pegunungan. Tim pencari ini terbagi dalam beberapa kelompok. Rencananya mereka melakukan pencarian selama dua hari.

Selain upaya pencarian, doa pun terus dipanjatkan. Ratusan keluarga korban penumpang Adam Air menggelar doa bersama di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar. Mereka memanjatkan doa agar pesawat yang hilang kontak pada Senin pekan silam itu segera ditemukan. Meski pasrah akan nasib kerabatnya yang ikut dalam pesawat Adam Air, mereka tetap berharap ada keajaiban.

Sementara dalam sidang paripurna tadi pagi, sejumlah anggota Dewan mempertanyakan sikap pimpinan DPR yang dinilai tidak memberikan rekomendasi yang mendalam untuk menangani masalah ini. "Sampai hari ini kita belum mendengar ada tindakan pemerintah terhadap manajemen yang dianggap melanggar." kata Azwar Anas, anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

Interupsi anggota DPR mengungkapkan beberapa kasus, di mana para pilot dipaksa menerbangkan pesawat dalam kondisi yang tak aman. Dalam hal ini, pihak manajemen Adam Air harus diperiksa karena dianggap paling bertanggung jawab atas musibah ini. Dewan menyarankan pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh di bidang transportasi. Bila perlu sanksi terhadap manajemen harus dipertegas.

Terkait disebut-sebutnya soal kepemilikan saham di Adam Air, Ketua DPR Agung Laksono membantah kalau dirinya menjabat sebagai komisaris Adam Air. "Saya tidak menyatakan sebagai presiden komisaris," kata Agung. Dia menambahkan, siap jika diajukan ke Badan Kehormatan DPR. "Boleh saja," ujar Agung.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya