Dalam tiga hari ini, bibit badai tropis juga akan melintasi Laut Jawa dan Flores yang bisa meningkatkan kecepatan angin. Badai ini bergerak menuju Australia dan akan melewati Laut Jawa dan Flores. Gerakannya berpotensi membuat tumpukan massa udara yang bisa meningkatkan kecepatan angin dan cuaca buruk. Lantaran itulah, seluruh kapal yang memiliki draught--bagian kapal berada di bawah air kurang dari empat meter--diimbau tidak berlayar hingga sepekan ke depan [baca: Perairan Indonesia Mengganas].
Cuaca buruk pun memaksa pengelola pelabuhan penyeberangan Lembar dan Padang Bai yang menghubungkan Pulau Lombok dan Bali menutup penyeberangan pada malam hari. Jadwal penyeberangan yang biasanya 16 kali per hari, kini hanya enam kali sehari. Kondisi serupa terjadi di Dermaga Bolok, Kupang, Nusatenggara Timur. Sejumlah feri terpaksa berlabuh di laut lepas untuk mengantisipasi badai. Syabandar Kupang sudah melarang pelayaran hingga waktu yang tidak ditentukan. Sebab, tinggi gelombang di Laut Sawu saat ini mencapai 2,5 meter.
Advertisement
Cuaca memang sedang tak bersahabat. Terlebih, musim penghujan seperti saat ini berpotensi menimbulkan bencana. Kendati demikian, bukan berarti cuaca buruk bisa semudah itu dijadikan kambing hitam ketika musibah atau bencana terjadi [baca: Cuaca Buruk, Kambing Hitam Bencana]. Mungkin ada baiknya sejak dini semua pihak mewaspadai perubahan cuaca. Pihak BMG pun senantiasa mengeluarkan perkiraan cuaca.
Pihak BMG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat dan petir berpeluang terjadi di Sumatra bagian barat, wilayah barat dan selatan Kalimantan, serta Sulawesi bagian selatan. Sementara di perairan sebelah utara dan barat Aceh, Laut Maluku, Laut Arafura, kemungkinan terjadi gelombang setinggi satu hingga satu setengah meter yang berbahaya bagi perahu nelayan.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)