Sebelum dibawa ke RS Persahabatan, Lutfi dalam kondisi sekarat dirawat di RS Bhakti Mulya, Jakarta. Sayang Lutfi kurang mendapat perawatan memadai di RS Bhakti Mulya. "Selimut dan seprai yang nggak berani diganti, diserahkan kepada keluarga pasien. Mereka mengatakan itu sosialisasi yang dilakukan media. Siapa yang bisa menjamin bahwa memang tidak tertular melalui sentuhan," kata Faisal, tetangga yang membawa Lutfi ke RS Bhakti Mulya [baca: Potret Perjuangan Penderita HIV].
Pengakuan Lufti ditelantarkan disangkal Direktur Utama Bhakti Mulya dokter Eddi Junaedi. Menurut Eddi, prosedur perawatan sudah dilaksanakan. "Dokter kita sudah visit. Kita tidak punya fasilitas artinya kita tidak punya obat yang harus gratis, perawat yang terlatih untuk merawat ini [pasien HIV] kemudian juga untuk konseling. Tenaga kita belum ada untuk itu," jelas Eddi.
Advertisement
Pihak RS Persahabatan juga sempat bingung bertindak, karena tidak ada keluarga yang menjamin Lutfi. Namun kini diputuskan biaya pengobatan digratiskan. Lutfi mungkin sedikit bisa bernapas lega mendengar keputusan tersebut. Namun masalah lain menanti lelaki yang diketahui tinggal sebatang kara di Jakarta ini. Lutfi tidak ada yang merawat. Pasalnya orangtua pria berumur 25 tahun itu sudah meninggal. Sedangkan keluarga yang masih hidup hanya kakaknya di Pekalongan, Jawa Tengah.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)