Potret Perjuangan Penderita HIV

Lutfi, pengidap HIV kini hidup sekarat setelah tak dilayani pihak rumah sakit dengan baik. Di Jakarta, Lutfi hidup sebatang kara setelah orang tuanya meninggal dunia.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 Desember 2006, 19:11 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Bagaimana bila seseorang yang hidup sebatang kara terserang penyakit parah dan tak memiliki biaya? Kemungkinan besar yang bersangkutan akan sulit mendapat pengobatan. Ini seperti dialami Lutfi, pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang tengah sekarat karena tak dilayani rumah sakit dengan baik. Ironisnya, di Jakarta, Lutfi hidup sebatang kara setelah orang tuanya meninggal dunia.

Menurut Faisal, tetangga korban, Lutfi kini sudah dirawat di Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. Sebelumnya Lutfi sempat dirawat di RS Bhakti Mulia, Jalan Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan. Namun di rumah sakit tersebut, Lutfi tak mendapat perawatan dengan baik setelah hasil laboratorium menunjukkan dirinya positif HIV. Hingga kini pihak RS Bhakti Mulya belum bersedia memberikan keterangan terhadap kasus Lutfi.

Di RS Persahabatan pun, Lutfi tak mendapat tempat khusus yang seharusnya diperoleh sebagai pengidap HIV. Alasannya ruang isolasi di rumah sakit tersebut penuh. Ironis memang, pria berusia 25 tahun itu harus memperjuangkan nyawanya sendiri dengan segala keterbatasan.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya