Alda dan Kemana Ferry?

Perburuan Ferry Surya Prakarsa, pacar almarhumah Alda Risma, hingga kini masih dilakukan polisi. Sang Rinpoche yang menjadi saksi kunci kasus tewasnya penyanyi seksi ini dikabarkan berada di Singapura.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Desember 2006, 02:19 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Nama Ferry Surya Prakarsa dalam dua pekan terakhir menjadi perhatian khalayak luas. Pasalnya, Ferry merupakan orang yang sangat dinanti dan dicari sejumlah pihak, termasuk polisi terkait tewasnya penyanyi Alda Risma Elvariani di Hotel Grand Menteng, Jakarta Pusat, 12 Desember lalu.

Bagi jajaran Kepolisian Metro Jaya, Ferry adalah saksi kunci dalam kasus ini. Pria yang diduga pacar almarhumah ini merupakan salah satu orang yang bersama Alda di kamar 432 Hotel Grand Menteng menjelang ajal menjemput penyanyi seksi tersebut. Dia juga salah satu yang mengantar Alda ke Rumah Sakit Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur, sebelum dikirim ke RS Cipto Mangunkusumo, Jakpus.

Selain itu, polisi juga mempunyai rekaman Ferry dalam kamera pengawas (CCTV) milik Hotel Grand Menteng beberapa saat sebelum pelantun lagu Aku Tak Biasa itu masuk ke hotel tersebut. Bukti lainnya, pengakuan seorang sopir taksi yang melihat Ferry membawa Alda ke RS Mitra Internasional.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Ferry adalah salah satu target utama polisi untuk mengungkap kasus tewasnya Alda. Namun, memburu pria kelahiran Jakarta tahun 1972 itu bukan perkara mudah. Sebab setelah kematian Alda, Ferry hilang bagai ditelan bumi [baca: Penyanyi Alda Tewas di Kamar Hotel].

Ferry adalah alumni dari Universitas Washington sebagai ahli aeronautika atau kedirgantaraan. Semasa kuliah, Ferry memperdalam ilmu agama Buddha tradisi gelug dari Tantrayana Vajrayana dari Yang Mulia Changdud Tulku Rinpoche, guru besar Universitas Washington.

Karena aktif di bidang keagamaan, Ferry dinobatkan sebagai Yang Mulia Serlingpa Rinpoche di Swiss sepuluh tahun silam. Gelar ini mirip pendeta atau ustad di agama lain. Setelah dinobatkan dia akhirnya dikenal sebagai Biksu Ferry, pemimpin Vihara Tharpa Ling di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat [baca: Bubuk Putih dari Rumah Ferry Bukan Narkoba].

Pekan silam, tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian Daerah Metro Jaya, dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur menggerebek rumah Ferry di Perumahan Bukit Vila Gading Nomor 18, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat digerebek polisi tak menemukan Ferry dan rumahnya kosong. Polisi malah mendapati sejumlah bungkusan berisi serbuk putih seberat 10 kilogram yang diduga heroin dan shabu [baca: Rumah Ferry Surya Digerebek].

"Bungkusan-bungkusan kecil berbagai warna itu menyerupai shabu," kata Direktur Narkoba Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Indradi Thanos di depan wartawan beberapa waktu lalu. Dari temuan tersebut, sosok Ferry sempat diduga sebagai bandar besar narkotik dan obat-obatan berbahaya (narkoba). Namun setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, polisi menyatakan serbuk putih tersebut bukanlah heroin atau shabu, tapi sebuah serbuk yang kerap dipakai untuk sarana beribadah umat Buddha.

Sementara itu, pelacakan terhadap Ferry pun terus dilakukan polisi hingga saat berita ini ditulis. Terakhir, polisi sempat menemukan jejak Ferry saat hendak pergi ke Singapura. Bukti ini didapat setelah polisi menemukan kartu kredit milik Ferry yang tertinggal di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Menurut polisi, Ferry pergi ke Singapura dengan menumpangi pesawat Singapore Airlines sekitar pukul 10.30 WIB, sehari setelah Alda tewas.

Melihat dari jatidiri Ferry sebagai biksu, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Siti Hartati Murdaya mengaku tidak percaya Ferry terlibat narkoba dan juga kematian Alda. Ferry dikenal sebagai orang santun. "Jika benar Rinpoche ini melakukan itu [terlibat tewasnya Alda]. Itu di luar dugaan," kata Hartati. Ia berharap Ferry segera menyerahkan diri agar kasus ini cepat tuntas dan jelas.

Perhatian masyarakat yang kian besar dalam kasus ini membuat polisi harus bekerja keras mengungkap penyebab kematian Alda. Sebab tewasnya penyanyi seksi asal Bogor, Jawa Barat itu hingga kini masih misteri.

Lantaran itu, Thanos selaku Direktur Narkoba Mabes Polri harus turun tangan bersama tiga perwira menengah senior Polri. Mereka adalah Kapolres Jakarta Timur Komisaris Besar Polisi R. Manurung, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Armand Depari dan Kepala Sub Direktorat Psikotropika BNN Kombes Siswandi. Keterlibatan para perwira senior Polri ini semakin memperlihatkan kasus tewasnya Alda bukanlah perkara biasa

Penyelidikan kasus ini sejak awal memang tidak berjalan mulus. Banyak kejanggalan saat polisi melakukan pemeriksaan barang bukti di tempat kejadian perkara. Polisi harus melakukan pemeriksaan hingga dua kali dalam rentang waktu yang relatif lama [baca: Kejanggalan di Seputar Kematian Alda].

Pada penyelidikan pertama, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa alat suntik. Namun jumlah barang bukti itu tidak sebanyak penemuan pada penyelidikan kedua. Pada olah TKP kedua tersebut juga ditemukan sebuah sebuah alat kontrasepsi di kamar tempat Alda menginap.

Indikasi ketidakwajaran itu juga terlihat dari luka bekas suntikan di tubuh Alda yang jumlahnya lebih dari 20 suntikan. Suntikan tersebut diduga akibat narkoba sehingga muncul dugaan bahwa Alda tewas karena overdosis.

Namun suntikan itu ternyata bukan dilakukan sendiri oleh almarhumah karena bekasnya banyak berada di sebelah kanan tubuh Alda. Sementara Alda dikenal tidak kidal atau orang yang kerap menggunakan tangan kiri dalam setiap aktivitasnya. Ini membuktikan bahwa Alda bersama orang lain selain Ferry saat berada di kamar hotel tersebut.

Berdasarkan rekaman CCTV juga, selain Ferry terdapat dua orang lainnya yang masuk ke hotel bersama Alda. Sosok kedua orang tersebut dipastikan laki-laki dan perempuan. Awalnya polisi menduga sosok perempuan tersebut adalah perawat kecantikan yang dikenal bernama suster Meydi. Namun setelah Meydi diperiksa, ia mempunyai alibi bahwa saat kejadian sedang berada di Bandung, Jabar, bersama pacarnya [baca: Polisi Memburu Teman Lelaki Alda Risma].

Meydi kemudian dilepas polisi dan penyelidikan beralih kepada Yanti, sekretaris Ferry. Saat diperiksa Yanti mengaku bukan orang yang bersama Alda saat berada di Hotel Grand Menteng. Ketidakpastian siapa kedua sosok yang mendampingi Alda saat itu kini juga terus misteri. Dikabarkan sosok lelaki yang terekam kamera pengintai adalah seorang perwira polisi.

Munculnya dugaan ketidakwajaran di balik kematian Alda memang jelas memerlukan jawaban yang pasti agar tidak ada kesimpangsiuran informasi. Hanya misteri tersebut sampai kini belum terungkap oleh polisi. Sementara berdasarkan hasil otopsi tim forensik RSCM, di tubuh Alda terdapat zat amphetamine dan methamphetamine. Kedua zat itu termasuk dalam jenis psikotropika. Hingga kini, polisi masih belum bisa memastikan kapan kasus tewasnya Alda bisa terungkap. Karena Ferry yang menjadi saksi kunci belum bisa dimintai keterangannya terkait kematian Alda.

Di tengah misteri yang tak kunjung terjawab seputar kematian Alda yang mengenaskan ini membuat keluarga almarhumah terus diselimuti kesedihan. Sebab setelah jasadnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Blender, Bogor, sehari setelah kejadian, mereka masih terpukul dengan tewasnya Alda. Menurut pihak keluarga Alda, hal ini bukan semata-mata karena mendiang adalah tulang punggung keluarga, tapi cara tewasnya yang sangat mengenaskan dan memilukan.

Nasrullah, pakar hukum pidana, mengatakan dari mana masyarakat dan media massa menyimpulkan Alda meninggal karena narkoba. "Ini yang harus digali. Kalau memang benar polisi yang pertama kali menyimpulkan Alda tewas karena narkoba saya beranggapan polisi gegabah," kata dia. Menurut Nasrullah, banyaknya kejanggalan dalam kesimpulan penyelidikan kasus meninggalnya Alda ini harus menjadi tanda tanya besar. "Kita harus tahu ada apa dengan kasus ini," ungkap dia.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Polisi Sisno Adiwinoto mengatakan kasus tewasnya Alda ini merupakan kasus biasa. "Polisi harus melakukan pemeriksaan dari mulai penyelidikan hingga penyidikan yang intensif untuk mengetahui apa penyebab kematian Alda," jelas Sisno.

Kepergian Alda untuk selamanya kini memang menjadi pekerjaan rumah polisi. Pengungkapan polisi atas tewasnya penyanyi ini sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama. Upaya penyelidikan secara menyeluruh dan tuntas ini tentunya sangat berat tanpa bantuan sang Rinpoche.(ZIZ/Satriana Budi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya