Liputan6.com, Jakarta: Keragaman cerita film dari seluruh dunia kembali dipertontonkan di ajang Jakarta International Film Festival 2006 (JiFFest). Seperti penyelenggaraan tahun sebelumnya, berbagai kategori film mulai dari hak asasi manusia, musik, perempuan serta sinema dunia atau world cinema ditampilkan dalam ajang ini. Tahun ini, ada 230 film dari 35 negara yang ditampilkan dalam festival yang diselenggarakan untuk kedelapan kalinya.
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, minat penonton pada JiFFest kali ini jauh lebih tinggi. Seperti terlihat di salah satu studio di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Tiga jam sebelum pemutaran film, tiket sudah habis terjual. Padahal para penggemar film ini sudah menunggu berjam-jam untuk memperoleh karcis.
Bahkan, kata Lalu Roisamri, Program Manager JiFFest 2006, pada hari keenam pelaksanaan festival, semua tiket di seluruh bioskop yang memutar film JiFFest sudah terjual habis. "Jadi, kualitas theatre juga cukup bagus," kata Lalu.
Di antara film yang banyak diminati penonton adalah film berjudul Babel. Film ini mengangkat kisah tentang penembakan di padang pasir Maroko yang memicu serangkaian peristiwa menyedihkan termasuk yang dialami pasangan turis Amerika Serikat. Film yang dibintangi artis Hollywood Brad Pitt dan Cate Blanchett ini adalah pemenang Best Director Festival de Cannes 2006.
Film lain yang sempat menjadi perhatian publik adalah film Cafe Transit. Film hasil kerjasama Iran dan Prancis ini mengambil kisah seorang janda dengan dua anak. Setelah suaminya meninggal dunia, ia nekat membuka warung atau kafe. Padahal wanita yang bekerja sebagai pelayan atau pemilik kafe dianggap tabu dalam masyarakat Iran.
Tingginya minat penonton diakui Shanty Harmayn, pendiri dan Ketua Panitia JiFFest. Untuk memuaskan keinginan penggemar lainnya, film-film JiFFest rencananya akan diputar di seluruh jaringan bioskop di Tanah Air. "Mereka tak usah khawatir, secara komersial film-film itu akan diputar di bioskop lainnya," kata Shanty saat berbincang dalam acara Bayu Show di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, Kamis (14/12) pagi.
Ditambahkan Shanty keberhasilan ini adalah buah kerja keras panitia selama satu tahun. Hampir sepanjang tahun programmer JiFFest keliling dunia mengamati film-film yang akan ditayangkan dalam festival. Panitia juga sengaja mengundang beberapa konsultan atau kurator tamu. "Setelah itu baru kita menghubungi beberapa distributor," tutur Shanty.
Menurut Shanty, sebenarnya faktor penonton inilah yang membedakan JiFFest dengan ajang film lainnya. Panitia selalu mengutamakan kriteria film yang pantas dan layak untuk ditonton. "Ini syarat yang amat penting," ujar Shanty.
Kesuksesan penyelenggara JiFFest meraih penonton tak luput dari perhatian Noorca M. Massardi. Menurut pengamat film ini, keberhasilan ini adalah bukti keprofesionalan pihak penyelenggara. Publik percaya, selain diberi kemudahan saat menonton, film yang ditayangkan dalam JiFFest adalah film dengan kualitas baik. "Dengan begitu penonton menjadi tertarik," kata Noorca.
Noorca mencontohkan film Cafe Transit. Film ini menarik karena memunculkan fenomena tersendiri. Setelah revolusi Islam, Iran menjadi negara yang sangat fundamentalis dan keras. Tapi ternyata di negara yang mayoritas penduduknya muslim masih membutuhkan film. "Yang lebih menarik, filmnya dibuat secara sederhana tapi universal," kata Noorca.
Pendapat Noorca dibenarkan Shanty. Menurut dia, JiFFest memang selalu mengutamakan film yang bertemakan umum. "Latar belakang kisah film bisa di mana saja, namun inti dari film itu harus universal," kata Shanty.
Selain itu, untuk pertama kalinya JiFFest menggelar kompetisi film cerita panjang Indonesia. Film-film yang dirilis dari akhir 2005 sampai 2006 akan berlomba memperebutkan hadiah total senilai US$ 10.000. Masing-masing untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik. Dewan juri untuk kompetisi ini terdiri dari Teruoka Sozo (programmer Tokyo International Film Festival Jepang), Jan Vandierendonck (director Eurimage, Belgia), dan Andre Bennett (distributor Cinephile Kanada).
Menurut Shanty dan Norrca, secara teknis film Indonesia bisa bersaing dengan film luar negeri. Namun film di Tanah Air biasanya memiliki kelemahan dalam soal gagasan cerita. "Itu kelemahan kita hingga hari ini," kata Noorca.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)
BAYU SHOW
Kritik dan Saran (Cantumkan Nama dan Lokasi Anda) ke e-mail: bayu.liputan6@sctv.co.id
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, minat penonton pada JiFFest kali ini jauh lebih tinggi. Seperti terlihat di salah satu studio di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Tiga jam sebelum pemutaran film, tiket sudah habis terjual. Padahal para penggemar film ini sudah menunggu berjam-jam untuk memperoleh karcis.
Bahkan, kata Lalu Roisamri, Program Manager JiFFest 2006, pada hari keenam pelaksanaan festival, semua tiket di seluruh bioskop yang memutar film JiFFest sudah terjual habis. "Jadi, kualitas theatre juga cukup bagus," kata Lalu.
Di antara film yang banyak diminati penonton adalah film berjudul Babel. Film ini mengangkat kisah tentang penembakan di padang pasir Maroko yang memicu serangkaian peristiwa menyedihkan termasuk yang dialami pasangan turis Amerika Serikat. Film yang dibintangi artis Hollywood Brad Pitt dan Cate Blanchett ini adalah pemenang Best Director Festival de Cannes 2006.
Film lain yang sempat menjadi perhatian publik adalah film Cafe Transit. Film hasil kerjasama Iran dan Prancis ini mengambil kisah seorang janda dengan dua anak. Setelah suaminya meninggal dunia, ia nekat membuka warung atau kafe. Padahal wanita yang bekerja sebagai pelayan atau pemilik kafe dianggap tabu dalam masyarakat Iran.
Tingginya minat penonton diakui Shanty Harmayn, pendiri dan Ketua Panitia JiFFest. Untuk memuaskan keinginan penggemar lainnya, film-film JiFFest rencananya akan diputar di seluruh jaringan bioskop di Tanah Air. "Mereka tak usah khawatir, secara komersial film-film itu akan diputar di bioskop lainnya," kata Shanty saat berbincang dalam acara Bayu Show di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, Kamis (14/12) pagi.
Ditambahkan Shanty keberhasilan ini adalah buah kerja keras panitia selama satu tahun. Hampir sepanjang tahun programmer JiFFest keliling dunia mengamati film-film yang akan ditayangkan dalam festival. Panitia juga sengaja mengundang beberapa konsultan atau kurator tamu. "Setelah itu baru kita menghubungi beberapa distributor," tutur Shanty.
Menurut Shanty, sebenarnya faktor penonton inilah yang membedakan JiFFest dengan ajang film lainnya. Panitia selalu mengutamakan kriteria film yang pantas dan layak untuk ditonton. "Ini syarat yang amat penting," ujar Shanty.
Kesuksesan penyelenggara JiFFest meraih penonton tak luput dari perhatian Noorca M. Massardi. Menurut pengamat film ini, keberhasilan ini adalah bukti keprofesionalan pihak penyelenggara. Publik percaya, selain diberi kemudahan saat menonton, film yang ditayangkan dalam JiFFest adalah film dengan kualitas baik. "Dengan begitu penonton menjadi tertarik," kata Noorca.
Noorca mencontohkan film Cafe Transit. Film ini menarik karena memunculkan fenomena tersendiri. Setelah revolusi Islam, Iran menjadi negara yang sangat fundamentalis dan keras. Tapi ternyata di negara yang mayoritas penduduknya muslim masih membutuhkan film. "Yang lebih menarik, filmnya dibuat secara sederhana tapi universal," kata Noorca.
Pendapat Noorca dibenarkan Shanty. Menurut dia, JiFFest memang selalu mengutamakan film yang bertemakan umum. "Latar belakang kisah film bisa di mana saja, namun inti dari film itu harus universal," kata Shanty.
Selain itu, untuk pertama kalinya JiFFest menggelar kompetisi film cerita panjang Indonesia. Film-film yang dirilis dari akhir 2005 sampai 2006 akan berlomba memperebutkan hadiah total senilai US$ 10.000. Masing-masing untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik. Dewan juri untuk kompetisi ini terdiri dari Teruoka Sozo (programmer Tokyo International Film Festival Jepang), Jan Vandierendonck (director Eurimage, Belgia), dan Andre Bennett (distributor Cinephile Kanada).
Menurut Shanty dan Norrca, secara teknis film Indonesia bisa bersaing dengan film luar negeri. Namun film di Tanah Air biasanya memiliki kelemahan dalam soal gagasan cerita. "Itu kelemahan kita hingga hari ini," kata Noorca.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)
BAYU SHOW
Kritik dan Saran (Cantumkan Nama dan Lokasi Anda) ke e-mail: bayu.liputan6@sctv.co.id