Liputan6.com, Jakarta: Legenda jazz dunia George Benson sukses menghibur para pecandu jazz Indonesia. Pria kelahiran Pitsburg, Amerika Serikat ini tampil memukau di Grand Melia, Jakarta, Senin kemarin. Tembang Nothing`s Gonna Change My Love For You bahkan disambut tepuk tangan meriah [baca: Benson Sukses Menghibur Jakarta].
Benson dalam wawancara dengan presenter SCTV Bayu Sutiyono, baru-baru ini, mengaku senang bisa tampil kembali di Indonesia. Pasalnya kedatangannya ke Indonesia sempat dua kali tertunda karena situasi keamanan. Tepatnya saat Tragedi Bali I, 12 Oktober 2002, dan ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004.
Benson mengaku tak khawatir dengan situasi Jakarta yang marak akan aksi unjuk rasa menentang kedatangan Presiden AS George Walker Bush. Pasalnya, dia datang untuk menyenangkan orang bukan untuk urusan politik. "Orang-orang di sini mencintai kami, menyambut hangat kedatangan kami, dan menyukai apa yang kami kerjakan," ujar gitaris yang terkenal dengan keahlian scating atau petikan gitar diiringi persis vokal itu.
Tampil di Jakarta, menurut Benson, adalah bagian penting dalam turnya di Asia. Sebab, warga Indonesia tahu banyak soal perkembangan musik di AS. "Banyak orang muda di Asia yang selalu ingin tahu perkembangan mutakhir [musik]," ujar musisi berusia 66 tahun itu. Jadi usai dari Kuala Lumpur, Malaysia, dia terbang untuk menggoyang Jakarta.
Keputusan Benson tak keliru. Penampilannya di Jakarta terbilang sukses. Ribuan orang memadati konsernya di Grand Melia. Bagi sebagian penonton, meski mengaku tak hafal seluruh lagu Benson, mereka bisa menikmati konser. Mereka kagum dengan bakat Benson sebagai vokalis sekaligus gitaris.
Benson pun mengaku puas tampil di Jakarta. Bahkan lagu Nothing`s Gonna Change My Love For You khusus dibawakan untuk penggemarnya di Indonesia. Untuk diketahui, nomor ini tak pernah dinyanyikan Benson dalam setiap konsernya.
Bakat Benson sebagai vokalis sekaligus gitaris sudah terlihat sejak dini. Di usia delapan tahun, dia sudah manggung dan sempat beralih aliran musik menjadi rock pada umur 17 tahun. Perjalanan tinta emas di blantika jazz dunia, baru dimulai Benson empat tahun setelah itu. Sekitar tahun 1962 saat Benson memilih bergulat dengan jazz instrumental dengan media gitar berkat dorongan Charlie Christian dan Wes Montgomery. Tiga tahun kemudian, Benson membentuk grup dan berhasil masuk dapur rekaman.
Kini, Benson telah menelurkan 60 album. Album terakhir, bahkan melibatkan bassis The Beatles Paul McCartney. Album bertajuk Givin` It Up cukup laris di mana-mana. Album kompilasi bersama Al Jerreau ini mencatatkan diri sebagai nomor wahid di daftar lagu jazz kontemporer pada minggu pertama setelah rilis. Sukses terus Paman Benson.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)
Benson dalam wawancara dengan presenter SCTV Bayu Sutiyono, baru-baru ini, mengaku senang bisa tampil kembali di Indonesia. Pasalnya kedatangannya ke Indonesia sempat dua kali tertunda karena situasi keamanan. Tepatnya saat Tragedi Bali I, 12 Oktober 2002, dan ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004.
Benson mengaku tak khawatir dengan situasi Jakarta yang marak akan aksi unjuk rasa menentang kedatangan Presiden AS George Walker Bush. Pasalnya, dia datang untuk menyenangkan orang bukan untuk urusan politik. "Orang-orang di sini mencintai kami, menyambut hangat kedatangan kami, dan menyukai apa yang kami kerjakan," ujar gitaris yang terkenal dengan keahlian scating atau petikan gitar diiringi persis vokal itu.
Tampil di Jakarta, menurut Benson, adalah bagian penting dalam turnya di Asia. Sebab, warga Indonesia tahu banyak soal perkembangan musik di AS. "Banyak orang muda di Asia yang selalu ingin tahu perkembangan mutakhir [musik]," ujar musisi berusia 66 tahun itu. Jadi usai dari Kuala Lumpur, Malaysia, dia terbang untuk menggoyang Jakarta.
Keputusan Benson tak keliru. Penampilannya di Jakarta terbilang sukses. Ribuan orang memadati konsernya di Grand Melia. Bagi sebagian penonton, meski mengaku tak hafal seluruh lagu Benson, mereka bisa menikmati konser. Mereka kagum dengan bakat Benson sebagai vokalis sekaligus gitaris.
Benson pun mengaku puas tampil di Jakarta. Bahkan lagu Nothing`s Gonna Change My Love For You khusus dibawakan untuk penggemarnya di Indonesia. Untuk diketahui, nomor ini tak pernah dinyanyikan Benson dalam setiap konsernya.
Bakat Benson sebagai vokalis sekaligus gitaris sudah terlihat sejak dini. Di usia delapan tahun, dia sudah manggung dan sempat beralih aliran musik menjadi rock pada umur 17 tahun. Perjalanan tinta emas di blantika jazz dunia, baru dimulai Benson empat tahun setelah itu. Sekitar tahun 1962 saat Benson memilih bergulat dengan jazz instrumental dengan media gitar berkat dorongan Charlie Christian dan Wes Montgomery. Tiga tahun kemudian, Benson membentuk grup dan berhasil masuk dapur rekaman.
Kini, Benson telah menelurkan 60 album. Album terakhir, bahkan melibatkan bassis The Beatles Paul McCartney. Album bertajuk Givin` It Up cukup laris di mana-mana. Album kompilasi bersama Al Jerreau ini mencatatkan diri sebagai nomor wahid di daftar lagu jazz kontemporer pada minggu pertama setelah rilis. Sukses terus Paman Benson.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)