Jiwo, Jiwa yang Terabaikan

Tindakan kanibal yang dilakukan Jiwo alias Sumanti seharusnya tidak perlu terjadi andai saja masyarakat mau sedikit peduli dengan keberadaannya.

oleh Liputan6Diterbitkan 22 November 2006, 19:49 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Kepala Bidang Sosial Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat, Suparjono membenarkan bahwa tersangka kasus kanibal di kawasan Cimanggis telah memakan bayi yang baru dilahirkannya. "Ini konfirmasi dari Polsek Cimanggis. Bayi dimakan setelah dibakar dan baru kakinya yang dimakan," kata Suparjono kepada reporter SCTV Rosianna Silalahi dalam Dialog Liputan6 Petang, Rabu (22/11).

Suparjono mengaku pihaknya tak menduga ada kejadian tragis seperti ini di wilayahnya. Padahal, di Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 ditegaskan bahwa masalah kesejahteraan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Seperti gelandangan dan pengemis. Karena itu, dia mengakui pihaknya hingga kini belum sepenuhnya dapat menjalankan fungsi tersebut. Lantaran itulah Suparjono meminta warga agar menginformasikan kasus-kasus kesejahteraan sosial ke Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Pemkot Depok. "Sehingga kita bisa melakukan pembinaan dan tidak ada lagi peristiwa seperti ini," pinta dia.

Perempuan tidak waras yang memakan bayinya sendiri hingga kini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Cilendek, Bogor, Jabar. Meski terlihat lemah dengan tangan serta kaki terikat, wanita malang yang dijuluki Si Gila oleh warga sekitar bisa menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.

Ia mengaku bernama Jiwo alias Sumanti asal Kebumen, Jawa Tengah. Namun emosinya menjadi tidak terkendali saat pertanyaan mulai mengarah tentang nasib bayinya. Wajar, lantaran sang bayi telah dibakar untuk selanjutnya dimakan. Kisah mengenaskan ini terjadi di sebuah kamar rumah kosong di Jalan Akses Universitas Indonesia, Kelapa Dua, Cimanggis [baca: Diduga Sakit Jiwa, Ibu Menyantap Anak].

Malang benar Jiwo, sudah dianggap gila, tak ada satu pun warga yang peduli terhadapnya. Meski hamil, entah oleh siapa, dan usai melahirkan tidak ada seorang pun yang sudi mengulurkan tangan. Psikolog Sartono Mukadis menyatakan, apa yang menimpa Jiwo tak lebih dari makin tidak pedulinya masyarakat terhadap lingkungannya. "Kalau saya jadi kepala sudin (suku dinas), saya minta maaf kepada publik karena saya malu," kata Sartono.

Tindakan yang dilakukan oleh Jiwo memang kejam. Namun seharusnya itu tak perlu terjadi andai saja kita mau sedikit peduli terhadap orang-orang seperti Jiwo.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya