Straw berkilah cadar yang dikenakan itu bisa menghambat komunikasi serta membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak. Kendati begitu ia menegaskan pernyataannya itu cuma sebatas anjuran dan tak memaksa para wanita bercadar di kantornya memperlihatkan muka.
Anjuran tersebut memang didengarkan. Tapi jika para wanita muslim menolak, pimpinan Majelis Rendah (House of Commons) Parlemen Inggris ini tetap akan menghormatinya. Dalam artikel Straw juga menyebut cadar sebagai tanda adanya perbedaan.
Advertisement
Tulisan Straw ini kembali menimbulkan ketegangan dalam perdebatan masalah isolasi kultural dan toleransi. Kegelisahan masyarakat akan perbedaan keyakinan di Inggris meningkat usai insiden bom London yang menewaskan 52 orang, Juli setahun silam []. Namun kantor perdana menteri Inggris buru-buru menenangkan situasi. Mereka menyatakan artikel Straw tersebut dibuat dalam kapasitas pribadi, bukan sebagai ketua Majelis Rendah.(AIS)