Ladang Sampah Bernama Bantar Gebang

Gundukan besar sampah di TPA Bantar Gebang menjadi ladang penghidupan bagi sedikitnya enam ribu pemulung. Mahmud, seorang guru di Jakarta Barat terpaksa menyambi sebagai pemulung demi menutupi kebutuhan keluarga.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 September 2006, 14:08 WIB
Liputan6.com, Bekasi: Seperti namanya, tempat pembuangan akhir bukan pengelolaan, maka sampah di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat juga teronggok begitu saja. Maklum, tak kurang dari enam ton sampah warga Jakarta setiap hari dikirim ke sana. Kini, TPA Bantar Gebang pun telah menjadi gunungan sampah yang beratnya mencapai puluhan juta ton.

Aroma busuk selalu terendus dari timbunan sampah yang dibuang begitu saja dari truk-truk sampah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bau tercium hingga radius beberapa kilometer. Puluhan ribu lalat terlihat terbang kian kemari mengerumuni tumpukan sampah. Air berwarna hitam serta berbau mengalir ke jalan-jalan. Bahkan merembes ke sumur-sumur warga. Kondisi ini menyebabkan tak jarang sebagian penduduk terserang penyakit.

Warga gerah dengan kondisi yang mereka rasakan sejak 16 tahun lampau ini. Mereka berharap agar kawasan mereka tidak lagi dijadikan sebagai lokasi sisa-sisa pembuangan warga Ibu Kota dan sekitarnya. Pasalnya dampak buruk lebih banyak dirasakan warga ketimbang manfaatnya. Sementara uang kompensasi yang dijanjikan bagi mereka sangat minim.

Pada Desember 2003, perjanjian antara Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Provinsi Jakarta semestinya sudah berakhir. Namun apa hendak dikata, rencana penutupan TPA Bantar Gebang selalu berakhir di atas meja. Pada Juli silam, Pemkot Bekasi kembali mengizinkan Bantar Gebang dimanfaatkan dalam jangka enam bulan [baca: Bantar Gebang Dibuka Kembali].

Unjuk rasa yang digelar warga tidak mampu menghentikan perjanjian lintas daerah tersebut. Warga sempat menutup jalan yang menuju ke TPA Bantar Gebang. Mereka juga melarang truk-truk sampah untuk membongkar muatannya. Aksi ini dipicu keresahan penduduk setempat yang menganggap lingkungan mereka sudah tidak sehat lagi [baca: Warga Memblokir TPA Bantar Gebang].

Sebagian warga boleh keberatan. Namun TPA Bantar Gebang sejatinya menjadi ladang penghidupan bagi sedikitnya enam ribu pemulung. Bisnis pemulung di kawasan ini menghasilkan putaran uang minimal Rp 1,5 miliar per hari. Para pemulung, mengais komoditas yang dapat didaur ulang seperti aluminium, besi, spons, kayu, kardus, dan kertas.

Berdasarkan pantauan SCTV, ratusan pemulung dengan keranjang di punggung dan pengait di tangan langsung menyerbu truk sampah yang akan memasuki TPA Bantar Gebang. Saat sampah dicurahkan dari belakang truk, seperti punya mata pengait mereka begitu lihai memilih barang yang masuk ke keranjang dan barang yang tidak bisa dijual. Setiap pemulung rata-rata berpenghasilan Rp 600 ribu per bulan.

Profesi pemulung bisa dilakukan siapa saja. Mahmud, guru dan Wakil Kepala Madrasah Tsanawiyah Safinatul Huda, Jakarta Barat juga menyambi sebagai pemulung bersama sekitar 90 orang lainnya di sekitar rumahnya, Cengkareng, Jakarta Barat. Dia terpaksa nyambi karena honor sebagai guru tidak mencukupi untuk segala kebutuhan hidup keluarga dan membiayai sekolah anaknya.

Usai memulung sampah, pria yang telah mengajar sejak 27 tahun silam ini kembali bertugas sebagai guru. Mahmud tidak pernah merahasiakan pekerjaan sampingannya kepada para siswanya. Kepada mereka, Mahmud justru menegaskan bahwa memulung sampah lebih baik ketimbang menjadi penganggur dan menyusahkan orang lain. Apalagi terlibat kejahatan seperti mencopet atau maling.

Hasil menggiurkan ini terkadang membuat para pemulung mengabaikan maut yang mengintai mereka. Kapasitas sampah yang membludak membuat tumpukan yang ada rawan longsor. Ditambah lagi, tumpukan sampah juga tak merata di beberapa zona penimbunan. Kondisi inilah yang diduga menyebabkan dua pemulung dini hari tadi tewas terkubur sampah [baca: Longsor di Bantar Gebang Menewaskan Dua Pemulung].(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya