Kesahajaan Talang Mamak

Jauh dari peradaban kota dan modernitas, di tengah belantara, suku Talang Mamak menyimpan kesahajaannya hidup berdampingan dengan alam. Mereka butuh guru dan paramedis, tapi siapa yang sudi?

oleh Liputan6 diperbarui 29 Jul 2006, 15:13 WIB
Liputan6.com, Indragiri Hulu: Si jago telah berkokok. Sang fajar pun mulai menyemburatkan sinarnya di angkasa Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Ini pertanda bagi warga Talang Mamak memulai aktivitas.

Warga Talang Mamak dalam kesahajaannya tinggal dalam belantara di sebuah dusun yang disebut Dusun Datai, di Desa Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Mereka menggantungkan hidup sepenuhnya pada kearifan alam. Mereka percaya, ada bagian-bagian tertentu dari wilayah ini yang harus dipelihara. Inilah konsep keseimbangan yang menyatukan suku Talang Mamak dan hutan.

Suku Talang Mamak kerap menyebut diri suku Taha atau biasa juga menyebut sebagai langkah lama. Suku ini tergolong proto melayu atau melayu tua. Mereka menasbihkan adat Talang Mamak sebagai kepercayaan. Dan mereka akan menyebutkan suku melayu atau langkah baru bagi warga suku Talang Mamak yang menganut agama di luar kepercayaannya.

Populasi suku Talang Mamak saat ini sekitar 6.500 jiwa dan 900 jiwa di antaranya bermukim di dalam kawasan taman nasional. Untuk mencapai kawasan mereka yang berada di perbatasan Provinsi Riau dan Jambi, diperlukan perjalanan menggunakan mobil selama empat jam dari Pakanbaru-Siberida.

Perjalanan menggunakan mobil berakhir di kawasan Simpang Pendowo yang menjadi perbatasan dengan kawasan cagar alam Indragiri Hilir. Setelah itu, dilanjutkan dengan jalan yang dulu digunakan para pembalak. Kendaraan bergardan ganda pun masih bisa selip di jalanan ini karena beratnya medan yang harus dilalui.

Pilihan menggunakan jalanan yang hanya bisa dilintasi kendaraan bergardan ganda merupakan pilihan terbaik untuk mencapai Dusun Datai. Pilihan lain adalah berjalan kaki sekitar 30 kilometer menembus hutan. Di samping harus melewati jalan berbukit, suhu udara di tempat ini cukup tinggi dan sumber air sulit didapat. Ancaman dehidrasi dan kelelahan akan membayangi perjalanan tanpa kendaraan beroda empat.

Mobil untuk off road pun hanya bisa mengantar sampai di kawasan Keritang, Indragiri Hilir. Lepas dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak bekas pembalak yang telah tertutupi pohon tumbang.

Tim Potret semula menduga pohon tumbang ini merupakan reaksi kemarahan warga suku Talang Mamak atas kehadiran para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) atau pendatang lain. Belakangan diketahui, pohon-pohon ini sengaja ditebas pemilik perkebunan kelapa sawit yang sebentar lagi akan menguasai kawasan itu.

Menurut mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Riau, suku Talang Mamak sangat ramah terhadap siapapun. Mustahil mereka merusak hutan hanya untuk mengumbar kekesalannya. Bahkan reaksi kemarahan atas perlakuan semena-mena pihak luar terhadap hutan mereka pun justru dilawan dengan cara memindahkan lokasi permukiman mereka ke tempat lain. Padahal Talang Mamak bukanlah kelompok nomaden.

Berada di lahan bekas pemilik HPH bukanlah hal yang menyenangkan. Dengan pepohonan yang belum lagi besar, membuat suhu udara di tempat ini begitu menyengat. Dampak lingkungan ini tentu lebih banyak dirasakan warga suku Talang Mamak atau suku-suku terasing lain yang bermukim di Bukit Tigapuluh. Namun siapa yang akan mempedulikan keluhan mereka? Hasil hutan dipandang lebih menggiurkan ketimbang memikirkan nasib mereka.

Talang Mamak teramat lekat dengan hutan. Bahkan mereka kerap menyebut diri dengan istilah awak urang utan. Ini terjadi karena semua kebutuhan hidup dan perlengkapan sehari-hari mereka memang didapat dari hutan. Karena itulah warga Talang Mamak menjadi kelompok masyarakat yang paling terusik ketika hasil hutan dikuras oleh para pemegang HPH. Akibat yang paling terasa, mereka sulit mempertahankan konsep ladang berpindah yang berlandaskan terjaganya keseimbangan alam.

Memasuki Taman Nasional Bukit Tigapuluh seperti berada di kawasan yang tak tersentuh peradaban. Semak belukar memadati kiri dan kanan jalan setapak. Prasarana inilah yang digunakan warga Talang Mamak untuk mencapai dunia luar, selain menggunakan jalur air. Perjalanan melintasi hutan yang dibalut cuaca panas ini membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk mencapai lokasi tujuan, Dusun Datai.

Tiba di Dusun Datai, suasana jauh dari peradaban benar-benar kentara. Kaum lelaki di dusun ini umumnya pergi ke ladang atau hutan untuk mencari jernang atau gaharu. Mereka memanfaatkan hasil hutan untuk kebutuhan sendiri. Bila kebutuhan mereka telah terpenuhi, barulah dibawa ke desa lain untuk ditukar dengan kebutuhan sehari-hari semacam garam, minyak, atau lauk pauk.

Di Dusun Datai, ada Pak Katak yang menjadi kepala dusun dan kemantan atau dukun. Saat ditemui, pria ini sedang membuat perahu untuk kebutuhannya sendiri. Dia bercerita banyak tentang kesulitan yang dialami warganya. Yang utama adalah masalah pendidikan dan kesehatan. Anak-anak di sana bahkan hanya mengernyitkan dahi ketika ditanya siapa presiden negeri ini. Pak Katak bertutur, dusunnya memang butuh guru. Tapi, lagi-lagi, guru mana yang sudi mendatangi dusun nun jauh di tengah perbukitan itu.

Pak Katak juga memperlihatkan areal pemakaman umum di dusun ini. Dari kuburan yang terbentang di sela-sela tingginya pohon, jelas terlihat tingginya kematian balita di kalangan suku Talang Mamak. Menurut Katak, bayi-bayi ini kebanyakan meninggal akibat cacar air. "Serta batuk dan demam," lanjut pria berambut tipis ini.

Tak ada pendidikan dan kesehatan bisa jadi merupakan pemandangan biasa bagi warga di daerah-daerah terpencil. Tapi khusus untuk suku Talang Mamak, ini mestinya tak lagi menjadi keluhan rutin mereka. Meski terisolasi dari dunia luar, permukiman mereka masih bisa dan sering didatangi pihak lain. Bahkan sebuah lembaga swadaya masyarakat menjadikan Dusun Datai sebagai lokasi wisata bagi wisatawan asing.

Berada dua hari di dusun ini membawa pelajaran banyak mengenai prinsip hidup, cara hidup, dan problema sosial warga Talang Mamak. Yang patut diacungi jempol adalah, keteguhan mereka menjaga adat istiadat serta menjaga keseimbangan alam. Akhirnya, dengan menggunakan rakit, tim meninggalkan Dusun Datai ke Desa Rantau Langsat di kawasan Seberida, Indragiri Hulu yang harus ditempuh selama dua hari!(YAN/Tim Potret SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya