Wolfowitz Meminta Bantuan KPK Mengawasi Penyimpangan

Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz berkunjung ke Kantor KPK. Selain memberikan dukungan, Wolfowitz meminta KPK mengawasi penggunaan dana Bank Dunia dalam proyek-proyek di Indonesia yang ditengarai banyak dikorupsi.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 April 2006, 20:16 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz berkunjung ke Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Rabu (12/4). Kehadiran Wolfowitz adalah untuk mendukung keseriusan KPK memberantas kasus-kasus korupsi di Indonesia. Di kesempatan itu, ia juga meminta KPK mengawasi penggunaan dana Bank Dunia dalam sejumlah proyek di Indonesia. Sebab, pihak Bank Dunia menengarai banyak terjadi korupsi dalam proyek-proyek itu [baca: Wolfowitz Ancam Pelaku Korupsi].

Kekaguman Wolfowitz terhadap kinerja KPK, berbanding terbalik dengan anggapan sejumlah kalangan yang justru menganggap belum maksimal. Pria yang sudah setahun menduduki jabatannya ini meminta KPK mengungkap identitas para koruptor. Langkah ini untuk membuat efek jera bagi mereka. "Agar masyarakat tahu siapa mereka dan apa yang mereka lakukan," kata pria berusia 63 tahun itu.

Sementara KPK menyambut dengan baik keinginan Wolfowitz yang tak lain mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia periode 1986-1989. Ketua KPK Taufiequrachman Ruki berjanji memeriksa sejumlah proyek yang didanai Bank Dunia tersebut.

Pada hari yang sama mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga hadir di Kantor KPK. Namun, Gus Dur--demikian Abdurrahman Wahid biasa disapa--membantah keberadaan dirinya di sana sebagai bentuk dukungan moral memberantas korupsi.

Adapun menurut Wolfowitz, pandangan Bank Dunia terhadap kasus korupsi di Indonesia sama dengan penilaian masyarakat dan pemerintah Indonesia. "Korupsi adalah kegagalan terbesar negara ini," kata Presiden Bank Dunia kesembilan itu saat berdialog dengan Rieke Amru di Jakarta, hari ini.

Terkait pandangan tersebut, Bank Dunia akan mengejar para pelaku yang mengkorupsi dana-dana mereka. Kendati tak menyebutkan bentuk sanksinya, Wolfowitz memberikan wewenang kepada pemerintah Indonesia untuk menghukum si pelaku.

Mengenai daftar-daftar para pelaku korupsi, Wolfowitz mengizinkan pemerintah Indonesia maupun berbagai pihak mengakses situs Bank Dunia (www.worldbank.org). Di sana tertera sekitar 100 daftar perusahaan Indonesia yang terlibat dalam kegiatan menyimpang dalam proyek-proyek Bank Dunia.

Kendati demikian, Bank Dunia masih mempercayai untuk memberi pinjaman kepada Indonesia. Sebab, Indonesia tidak seperti sejumlah negara lain yang dijuluki keranjang masalah. "Mereka meminjam banyak, tapi cuma memakai sedikit dari yang dipinjam," jelas pria bernama lengkap Paul Dundes Wolfowitz ini.

Para politisi, pemerintah, masyarakat, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat meminta pengurangan utang yang signifikan untuk Indonesia. Ini mengingat tingginya angka kemiskinan di Tanah Air, termasuk porsi utang Indonesia yang sudah sangat besar. Dan ada yang menganggap, sebagian utang itu adalah utang najis (utang tidak sah) [baca: Utang Najis Indonesia Tak Perlu Dibayar].

Bila semua itu dipenuhi, bukan tak mungkin slogan dunia tanpa kemiskinan yang digaungkan Bank Dunia benar-benar dibuktikan. Wolfowitz mengakui hal itu. Ia bahkan menilai kemiskinan di Indonesia menurun enam persen menjadi lima persen saat ini. "Saya kira alasan jumlah itu terus menurun adalah karena ada banyak pinjaman dari Bank Dunia," imbuh Wolfowitz.

Atas dasar itulah, Bank Dunia akan terus bekerja sama dengan pemerintah Indonesia. Mereka bahkan akan memberi pinjaman hingga mencapai US$ 900 juta. Semua itu dengan bunga di bawah pasar," tandas Wolfowitz. Bagi dia, jumlah sebesar itu adalah jumlah yang serius.

Hingga kini saja, total utang Indonesia terhadap Bank Dunia sudah mencapai sekitar US$ 1,2 miliar. Jumlah itu sudah termasuk pinjaman pemerintah Indonesia sekitar US$ 700 juta untuk tahun ini. Pinjaman itu akan digunakan untuk pembiayaan sejumlah proyek pembangunan infrastruktur, termasuk menutup defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2006 [baca: Pemerintah Meminta Tambahan Utang ke Bank Dunia].

Dengan jumlah utang sebesar itu, tentunya tak aneh bila muncul pertanyaan. Pertama, sanggupkah Indonesia melunasinya? Dan mampukah Indonesia mencegah serta "menggebuk" pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mengintai dana itu untuk ditilap atau dikorupsi?(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya