Mereka menggunakan garam lantaran harga pupuk di pasaran melambung. Kondisi itu membuat para petani tak mampu membeli pupuk sesuai kebutuhan. Padahal, saat ini sudah memasuki masa pemupukan.
Sementara di Lamongan, Jatim, para petani harus mengantre untuk memperoleh pupuk saat pasokan tiba. Padahal, harganya naik dari Rp 11 ribu menjadi Rp 81 ribu per sak isi 50 kilogram. Karena diserbu para petani, pupuk urea tanpa subsidi dari PT Pupuk Sriwijaya sebanyak 40 ton itu pun habis dalam sekejap.
Advertisement
Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengakui adanya masalah tersebut. Karena itu, Fahmi berencana segera menemui Menteri Pertanian Anton Apriantono untuk membahas mekanisme subsidi pupuk. Ia menganggap, mekanisme itulah sebagai akar permasalahannya.
Menurut Fahmi, pertemuan dengan Anton sebenarnya dijadwalkan kemarin. Namun, pertemuan terpaksa dibatalkan karena Anton sedang berkunjung ke Batam, Kepulauan Riau bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)