Selain langka, harga minyak tanah juga melonjak. Di tingkat pengecer, sebelumnya warga bisa membeli Rp 2.250 per liter atau sesuai harga eceran tertinggi. Tapi, kini dijual Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per liter. Langkanya minyak tanah di daerah ini disebabkan Pertamina mengurangi pasokan.
Pasokan ideal untuk Bengkulu adalah 175 kiloliter per hari. Kenyataannya daerah ini hanya dipasok 160 kiloliter. Bahkan sejak sepekan silam, Pertamina mengurangi pasokan 14 persen sehingga total pasokan hanya 137 kiloliter. Saat dimintai konfirmasi melalui telepon, sumber SCTV di Depo Pertamina Bengkulu mengungkapkan kondisi ini terjadi akibat pengurangan pasokan dari Pertamina Pusat.
Advertisement
Sementara itu, ratusan warga di Desa Suren, Kecamatan Mlarak, Ponorogo, Jawa Timur, antre membeli minyak tanah dalam sebuah operasi pasar. Mereka rela berbaris berjam-jam agar bisa membeli murah. Satu liter minyak tanah dijual Rp 1.000 per liter. Sementara, di pasaran harga bahan bakar minyak ini melonjak sampai Rp 3.500 per liter dari harga normal Rp 2.500 per liter.
Minyak tanah di kawasan ini sudah sejak beberapa bulan terakhir sulit didapat. Kalaupun ada, harga cukup tinggi, sekitar Rp 3.000 hingga Rp 3.500 per liter. Diperkirakan, kelangkaan di wilayah ini akibat lokasi desa yang terpencil. Sedangkan jalur jalan menuju desa tidak memadai sehingga proses distribusi tersendat. Untuk memberi kesempatan seluruh warga memperoleh minyak tanah, pengelola pasar murah membatasi pembelian per orang maksimal lima liter. Meski demikian, sebagian besar warga hanya mampu membeli sebanyak tiga liter.
Kelangkaan minyak tanah juga melanda beberapa kawasan di Banda Aceh dan Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam. Kondisi ini akibat pasokan dari Pertamina sudah tidak teratur sejak tiga pekan terakhir. Hal ini diperparah dengan berkurangnya jatah pasokan ke sejumlah pangkalan hingga 50 persen dari pasokan normal [].(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)