Sementara di Sulawesi Tengah, perayaan Natal di Kota Palu, berlangsung di bawah pengamanan yang ketat. Sekitar lima ribu personel gabungan TNI dan Polri diterjunkan untuk menjaga seluruh tempat ibadah kaum kristiani di Kota Palu. Sejumlah anggota Barisan Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama juga ikut menjaga umat Kristiani saat beribadah.
Nuansa berbeda tampak di lereng Gunung Merapi, Muntilan, Jawa Tengah. Dentingan piano yang biasa mengiringi lagu rohani diganti dengan gending Jawa dan gamelan. Sementara pohon Natal dan patung Isa Almasih tak ada. Mereka menggantinya dengan hiasan janur (daun kelapa). Misa Natal dengan budaya Jawa ini sebagai bentuk penghargaan terhadap adat setempat.
Advertisement
Sedangkan di salah satu gereja di Ibu Kota, perayaan Natal dimeriahkan kehadiran Sinterklas. Diadakan pula panggung boneka yang membawa pesan-pesan rohani. Melalui pembagian hadiah oleh Sinterklas dan panggung boneka ini diharapkan anak-anak mampu memahami makna Natal sejak usia dini.
Tak seperti kekhawatiran banyak pihak, ternyata misa Natal di sebagian besar gereja di Jakarta berlangsung aman. Tak ada kekacauan berarti, apalagi diwarnai ledakan bom. Di Kelapa Gading, Jakarta Utara, misalnya. Lebih dari 3.000 jemaat memadati Gereja Mawar Saron [baca: Natal di Jakarta dan Berbagai Daerah Aman].(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)