Pengakuan pihak Indorama ternyata berlainan dengan data yang dimiliki situs Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (EPA). Berdasarkan data EPA, gas therminol 66 dan santotherm 66 adalah merek dagang dari senyawa kimia Polychlorinated biphenyls (PCBs). Bersama 13 merek dagang lain, gas ini tergolong membahayakan kesehatan. Gas ini dapat menyebar pada udara jika terjadi kebocoran PCBs dari lokasi pabrik saat proses pemanasan, juga melalui air jika pembuatan area pembuangan limbah tidak benar.
Dampak PCBs yang paling ringan terhadap kesehatan manusia adalah gatal-gatal pada kulit. Jika terhirup, zat ini akan mengakibatkan mual, pusing, dan muntah. Pada level tertentu dapat menyebabkan kanker hati. Orang-orang yang paling rentan terhadap ancaman ini adalah pekerja dan orang di sekitar pabrik yang menggunakan senyawa PCBs dengan kontrol yang lemah. Karena itulah EPA telah menggolongkan PCBs sebagai senyawa beracun dan tidak boleh diproduksi lagi [baca: Legal, Penggunaan Therminol di Indonesia].
Advertisement
Untunglah di antara ratusan warga Kampung Sampih, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, tak ada korban jiwa. Sebab gas therminol atau santotherm--seperti yang disebut manajemen Indorama--sudah melalui proses pembakaran sehingga tak terlalu berbahaya. Efek bagi warga yang menghisap gas berbau seperti sawo matang itu adalah pusing-pusing, mual, dan nyeri pada ulu hati. "Kami sudah cari data baru, senyawa therminol tidak menyebabkan kelumpuhan," kata Rajeev Phene, Manager Utility Indorama.
Menyikapi kasus ini, pemerintah setempat akan meninjau ulang keberadaan Indorama secara keseluruhan. Jika memang tak mempedulikan kesehatan warga sekitar, kemungkinan izin Indorama akan ditinjau ulang. "Saya sudah meminta [Kementerian Negara] Lingkungan Hidup untuk meninjau ulang," kata Wakil Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.
Indorama tercatat sebagai produsen poliester terbesar di Indonesia. Emiten yang memiliki pabrik di Purwakarta ini bahkan menyabet Penghargaan Primaniyarta 2005 sebagai eksportir berprestasi terbaik dalam ekspor nonminyak dan gas bumi. Penghargaan ini adalah yang ketiga kalinya didapat Indorama setelah pada 1997 dan 2001 menyabet gelar yang sama.
Ironisnya, kebesaran nama Indorama tak berpengaruh banyak untuk kehidupan warga sekitar. Alih-alih menaikkan taraf hidup warga Desa Cibinong, pabrik Indorama telah tiga kali menyengsarakan warga setempat. Pada akhir April 2000, pipa gas Indorama bocor dan mengakibatkan 330 warga dilarikan ke rumah sakit dengan keluhan sekujur tubuh gatal-gatal, mual, pusing, dan gangguan pernapasan. Empat bulan sebelumnya, juga terjadi peristiwa yang sama. Sebanyak 30 warga pusing dan mual-mual tapi tak ada yang dirawat di rumah sakit.
Akibat pencemaran yang telah merugikan warga, selama ini pihak Indorama hanya memberikan santunan lima kaleng susu cair per bulan kepada warga. Untunglah warga sekarang bisa bernapas sedikit lebih lega setelah pihak Indorama mengabulkan tututan warga dengan memberikan santunan Rp 250 ribu per orang untuk 529 jiwa.
Selain santunan sebenarnya masih ada harapan lain dari warga Kampung Sampih, Desa Cibinong, yang rumahnya hanya beberapa meter dari pagar tembok pabrik Indorama. Seperti yang diakui Heni. Perempuan yang pernah ditolak bekerja di Indorama karena tingginya kurang satu sentimeter ini mengaku ingin bekerja di Indorama. Sementara Cucuk berharap Indorama segera mendirikan pusat kesehatan masyarakat gratis di sekitar permukiman warga. "Supaya tiap bulan warga berobat disini gratis," kata Cucuk.
Harapan warga Kampung Sampih sepertinya tak berlebihan. Apalagi di antara warga juga masih ada yang belum sembuh total akibat menghirup gas berbahaya di Indorama ketika bocor lima tahun silam. Di antaranya adalah Muhidin. Pria berumur sekitar 60-an tahun ini sudah lima tahun menderita sesak napas dan tangannya gemetar. Dia mengalami kondisi ini setelah pipa gas Indorama bocor pada April 2000. Dia selama ini hanya berobat ke puskesmas di Jatiluhur karena tak punya uang untuk berobat ke rumah sakit. "Sampai sekarang batuk-batuknya ada, sesak napasnya juga ada," tutur pria beruban ini.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)