Liputan6.com, Padang: Pesta budaya Tabuik Pariaman (tabut) berakhir ditandai dengan prosesi pembuangan dua tabuik ke laut. Peristiwa itu terlihat ketika puluhan ribu orang yang ingin menyaksikan prosesi tersebut memadati pinggiran Pantai Pariaman, Sumatra Barat, baru-baru ini.
Pesta tabuik sudah dilakukan sejak tahun 1824 dan diadakan setiap tahun pada bulan Muharam. Acara itu dimaksudkan untuk memperingati dua cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husen, yang wafat di medan perang saat melawan pasukan kafir Raja Yajid. Dalam pesta itu, semua prosesi menggambarkan kepahlawanan Hasan dan Husen. Mulai dari ma-arak panja atau mengarak jari-jari tangan, simbol tangan yang terpotong hingga menebang batang pisang sebagai lambang ketajaman pedang.
Setelah proses tersebut, dua tabuik siap dibawa ke medan perang. Bahkan, sebagian masyarakat Pariaman percaya bahwa semua perangkat tabuik mempunyai nilai keberkahan. Menurut Bupati Pariaman Muslim Kasim, pesta tabuik yang diadakan kali ini berbeda dengan sudah sering dilakukan. Sebab, pesta tabuik selalu sarat dengan nilai agama. Namun, pesta tabuik kali ini dipadukan dengan unsur hiburan.
Muslim mengakui, pesta tabuik yang mampu mendatangkan puluhan ribu penonton dari berbagai kota di Sumbar itu belum didukung oleh sejumlah sarana seperti angkutan dan penginapan yang memadai. Alhasil, tak sedikit pengunjung terpaksa menginap di Kota Padang dan Bukit Tinggi yang telah memiliki hotel berbintang.(PIN/Deni Risman dan Aldian)
Pesta tabuik sudah dilakukan sejak tahun 1824 dan diadakan setiap tahun pada bulan Muharam. Acara itu dimaksudkan untuk memperingati dua cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husen, yang wafat di medan perang saat melawan pasukan kafir Raja Yajid. Dalam pesta itu, semua prosesi menggambarkan kepahlawanan Hasan dan Husen. Mulai dari ma-arak panja atau mengarak jari-jari tangan, simbol tangan yang terpotong hingga menebang batang pisang sebagai lambang ketajaman pedang.
Setelah proses tersebut, dua tabuik siap dibawa ke medan perang. Bahkan, sebagian masyarakat Pariaman percaya bahwa semua perangkat tabuik mempunyai nilai keberkahan. Menurut Bupati Pariaman Muslim Kasim, pesta tabuik yang diadakan kali ini berbeda dengan sudah sering dilakukan. Sebab, pesta tabuik selalu sarat dengan nilai agama. Namun, pesta tabuik kali ini dipadukan dengan unsur hiburan.
Muslim mengakui, pesta tabuik yang mampu mendatangkan puluhan ribu penonton dari berbagai kota di Sumbar itu belum didukung oleh sejumlah sarana seperti angkutan dan penginapan yang memadai. Alhasil, tak sedikit pengunjung terpaksa menginap di Kota Padang dan Bukit Tinggi yang telah memiliki hotel berbintang.(PIN/Deni Risman dan Aldian)