Tempat Menyimpan Bom Azahari Masih Dicari

Polisi bersama Nur Kosim masih mencari senjata api, amunisi, dan bom milik Azahari yang disimpan Nur dalam hutan enam tahun silam. Nur kelelahan karena berjalan puluhan kilometer di jalan yang terjal.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 November 2005, 12:25 WIB
Liputan6.com, Ponorogo: Polisi masih mencari tempat kelompok Doktor Azahari bin Husin menyembunyikan senjata di hutan pinus sekitar Dusun Galih, Karangrejo, Ponorogo, Jawa Timur, hingga Sabtu (12/11). Kondisi perbukitan yang terjal membuat pencarian berjalan lamban. Terlebih Nur Kosim yang menjadi penunjuk jalan, kelelahan dan lupa tempat dia menyimpan senjata milik Azahari.

Pencarian dilakukan oleh personel Kepolisian Wilayah Madiun dan Tim Penjinak Bahan Peledak Kepolisian Daerah Jawa Timur. Tim harus berjalan kaki sekitar 20 kilometer dengan jalan yang menanjak dan terjal. Tak heran jika Nur kerap berhenti karena kelelahan. Hingga berita ini ditulis, tim sedang beristirahat dan akan melanjutkan pencarian sekitar pukul 14.00 WIB.

Pencarian juga tersendat-sendat karena Nur lupa lokasi tempat dia menyimpan senjata. Pria kurus ini diminta Azahari untuk menyimpan tiga pucuk senapan M-16, amunisi dan beberapa jenis bom di hutan pada 1998 [baca: Kelompok Azahari Menyembunyikan Senjata di Ponorogo].

Nur Kosim adalah narapidana kasus penipuan di sejumlah kota di Jatim. Dia dihukum satu setengah tahun di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Madiun sejak April 2005. Pria bertubuh kurus ini adalah satu-satunya informan yang dimiliki polisi yang mengetahui lokasi penyimpanan senjata milik Azahari. Nur juga berperan sebagai penyandang dana dalam jaringan Azahari.

Keluarga Nur Kosim di Jombang, Jatim, hanya bisa pasrah jika dia terbukti sebagai anggota teroris. Mereka tak mendengar kabar sejak Nur meninggalkan rumah enam tahun silam. Tak terkecuali Yeni, istrinya. Pihak keluarga baru tahu keberadaan Nur empat bulan silam ketika polisi memberitahu bahwa anak nomor delapan dari 12 bersaudara ini ditahan karena terlibat kasus penipuan. "Terserah polisi, mau digimana-gimanain," kata Ismail, kakak kandung Nur Kosim.

Sejauh ini, polisi masih memburu komplotan Azahari yang lain, termasuk Noordin M. Top. Kamis silam, Tim Detasemen Khusus 88/Antiteror Mabes Polri menangkap Abdul Aziz, warga Pekalongan, Jawa Tengah. Kepastian penangkapan ini baru diungkap polisi tadi pagi.

Menurut pihak keluarga, pada Kamis pagi Abdul Aziz didatangi tiga orang tak dikenal di rumahnya, Jalan Cempaka Gang 3 Nomor 10, Kelurahan Poncol, Kecamatan Pekalongan Timur, Pekalongan. Belakangan diketahui, ketiga orang dimaksud adalah polisi berpakaian preman.

Usman Bapsel, paman Abdul menyatakan, ketiga polisi mengajak Abdul ke sekolah menengah atas Islam swasta. Di tempat Abdul mengajar itu polisi membawa disket yang ada di dalam komputer. Setelah kembali beberapa saat ke rumah, Abdul lalu diajak pergi dan tak diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Abdul Aziz adalah sarjana lulusan salah satu perguruan tinggi di Pekalongan. Dia mempunyai seorang istri dan seorang anak yang berusia 3 tahun enam bulan. Kepastian Abdul Azis dibawa Tim Detasemen Antiteror baru diketahui pihak keluarga tadi pagi. Mereka mengaku menerima surat resmi penangkapan dari Mabes Polri. Tak disebutkan keberadaan suami dari Hikmah Bawazir itu dalam surat tersebut.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya