Sumbangan itu khusus diperuntukkan bagi pembiayaan kegiatan penanggulangan flu burung di lima negara tersebut. Dana itu juga dipakai untuk mendirikan jaringan pengawasan regional, agar memudahkan pertukaran informasi flu burung dan peningkatan kemampuan personel kesehatan.
Flu burung yang terakhir kali merebak pada tahun 2003, telah menyebabkan gangguan di sektor peternakan unggas serta merenggut korban manusia. Sejak itu, setidaknya 62 orang di Asia tewas akibat virus H5N1. Kebanyakan kasus kematian itu dikaitkan pada kontak langsung dengan burung yang terinfeksi virus. Korban tewas paling banyak terdapat di Vietnam. Sedangkan di Thailand, di antara 20 orang yang terinfeksi, 13 orang akhirnya tewas.
Advertisement
Sementara itu, dalam pidatonya pada pertemuan kesehatan global kemarin, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan kembali membahas tentang pandemi flu burung. Annan mengatakan, ancaman pandemi global itu seharusnya mendorong seluruh pemerintahan di dunia mengembangkan sistem yang baik, dalam pemberian kompensasi kepada peternak yang unggasnya terjangkiti virus itu.
Peternak, menurutnya, tidak akan memberitahu pemerintah bila unggas mereka sakit, sepanjang kompensasi yang diberikan tidak sesuai. Sejumlah pemerintah memang telah menawarkan kompensasi bagi para peternak yang unggasnya dimusnahkan akibat flu burung. Namun, masih banyak negara yang tidak mempunyai prosedur tersebut.
Menurut Annan, pengembangan jaringan keamanan finansial bagi para peternak dapat membantu menghindarkan dunia dari bencana pandemi flu burung. Selain meminta negara berkembang untuk mengubah kebiasaan hidup warganya, Annan juga menganjurkan peningkatan akses ke obat-obatan antiviral dan pertukaran informasi antarnegara mengenai flu burung. Selain unggas peliharaan, burung-burung liar kini juga dituding sebagai penyebab penyebaran flu burung di Asia dan Eropa.(ADO/Uri)