Liputan6.com, Jakarta: Belakangan, nama Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah bukan dikenal lantaran kawasan pariwisata Danau Poso yang menawan. Namun angka ratusan warga yang meregang nyawa datang dari sana. Puluhan ribu pula pengungsi kabur menyelamatkan nyawa. Seperti sejumlah peristiwa senada di Tanah Air, bentrokan antarwarga bernuansa agama nyaris menahun sudah usianya. Pelaku utama sudah siap "disudahi" lewat hukum. Padahal bukan mereka saja yang mesti bertanggung jawab. Sebab, peristiwa senada adalah coreng bersama buat Bumi Nusantara.
Cornelius Fabianus Tibo menjadi semakin terkenal. Pemimpin pasukan kelompok Kelelawar Hitam itu bakal menjalani hukuman mati. Dia dituduh biang Kerusuhan Poso Mei-Juni tahun silam. Dalam peristiwa kerusuhan konflik horisontal bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan itu, Tibo melakukan kesalahan besar. Dia bersama Dominggus da Silva dan Marinus Riwu telah menjadi otak kematian ratusan orang dan pembakaran ribuan bangunan milik warga.
Ada dugaan, Tibo bukanlah otak sebenarnya dalam pembunuhan massal tadi. Pria lulusan sekolah dasar itu hanya kambing hitam dari pelaku utama, konseptor pembantaian ratusan umat beragama Islam. Sebab menurut kenyataan di lapangan, pembunuhan itu begitu rapi dan seolah didukung dana yang tak sedikit. Padahal, itu tak mungkin dilakukan Tibo, yang sehari-hari hanya bekerja sebagai kuli pemanjat kopra. Tibo tak membantah tuduhan. Namun dia juga tak tahan menyimpan ihwal ke-16 orang "kawan seperjuangan" lain.
Kerusuhan ala Tibo dan kawan-kawan bukanlah barang baru yang mengejutkan di kabupaten dengan luas 28.013,50 kilometer persegi itu. Pasalnya, insiden serupa sempat bergolak di daerah penghasil kelapa di penghujung tahun 1998. Akibatnya, petugas keamanan menutup semua pintu masuk dan keluar Poso. Alasannya supaya massa dari luar Poso tak ikut masuk dari berbagai arah menuju ibu kota kabupaten yang terletak sekitar 230 kilometer dari Kota Palu itu.
Puncak kerusuhan terjadi pada Senin (28/12). Bentrokan itu melibatkan sekitar 8.000 massa dalam bentrokan fisik. Sedikitnya 55 bangunan rusak dan sekitar 79 orang terluka, terkena lemparan benda keras. Selain itu, tujuh buah sepeda motor dan empat mobil dikabarkan hangus ikut dibakar massa. Dalam bentrokan itu, petugas keamanan tak mampu membendung amukan massa. Maklum, jumlah personel tak sebanding dengan jumlah massa. Tiga dari puluhan kelurahan di Poso: Kelurahan Kasintuwu, Lombogia, dan Sayo, menjadi pusat kerusuhan. Hingga keesokan hari, Kota Poso masih dikuasai massa, terutama ribuan yang berasal dari luar kota sebelah timur dan barat. Sementara massa dari Tentana yang memicu kerusuhan sehari sebelumnya sudah didesak mundur.
Menurut keterangan penduduk setempat, kerusuhan dipicu oleh kedatangan massa sebanyak tiga truk dari Tentena yang dipimpin Herman Parimo, tokoh Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah. Padahal sehari sebelumnya sudah ditandatangani kesepakatan antara tokoh agama Islam dan Kristen, dan tokoh pemuda untuk saling menahan diri.
Di beberapa tempat di dalam kota, kobaran api dan asap tebal dari puing-puing kebakaran tampak di sejumlah wilayah. Toko, pasar, kantor instansi pemerintah dan swasta, serta sekolah, masih tutup. Ribuan orang yang terkonsentrasi pada setiap kelurahan, mempersenjatai diri dengan tombak, parang panjang, atau samurai. Mereka berjaga-jaga di hampir setiap sudut jalan dengan barikade drum serta palang kayu. Setiap kendaraan yang lewat harus diperiksa. Untunglah tak satu pun rumah ibadah, baik gereja atau masjid dan kantor instansi pemerintah yang dirusak massa.
Rabu, 30 Desember 1998, dibentuklah kesepakatan untuk mengatasi situasi genting di Kota Poso. Keputusan itu dihasilkan dalam pertemuan ke sekian kali pada hari Selasa sebelumnya antara Musyawarah Pimpinan Daerah Poso dan Muspida Sulteng dengan sejumlah tokoh agama, masyarakat Poso, dan daerah sekitarnya, termasuk pendatang dari luar kota. Dalam pertemuan itu, setiap warga diminta menahan diri dan mafhum bahwa ada orang yang sengaja mengarahkan persoalan ke masalah pertentangan agama. Herman Parimo, yang dianggap dalang kerusuhan diminta segera dibekuk. Poso kembali tenang.
Menjelang pertengahan April 2000, Poso digoyang lagi. Dalam peristiwa itu, dua warga dilaporkan tewas dan sedikitnya 11 orang luka parah akibat kerusuhan di Kecamatan Tojo, sekitar 12 kilometer arah timur laut Kota Poso. Insiden bermula dari aksi saling serang antara sekelompok massa dari Desa Batugencu dan Desa Sepe (Kecamatan Lage) dengan warga Desa Toyado (Kecamatan Tojo), sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Sayang, ihwal kejadian masih samar. Pertikaian berlangsung hingga petang hari. Warga dari kedua kubu saling menyerang dengan senjata rakitan dan panah berjarak hanya 30-an meter.
Namun kedamaian hanya berlangsung sesaat. Sebab seperti kasus sebelumnya, Kota Poso kembali diblokir perusuh. Korban yang berjatuhan kali ini tak tanggung-tanggung. Menurut data resmi yang disampaikan Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayor Jenderal TNI AD Slamet Kirbiantoro, kala itu, korban tewas berjumlah 112 jiwa. Termasuk ribuan warga luka-luka dan ratusan bangunan terbakar. Penduduk yang masih tersisa di Poso pun tinggal sekitar delapan persen (sekitar 3.200 jiwa) dari 41.000 jiwa penduduk Kecamatan Poso Kota. Tercatat sekitar 7.000 orang mengungsi di Markas Kompi Senapan B/711, 2.500 orang di Markas Kodim, dan sebagian besar mengungsi ke luar kabupaten.
Korban tewas terbanyak ditemukan di beberapa titik parah lokasi bentrokan. Di antaranya Desa Batugiuncu, Sepe, Silanca, di Kecamatan Lage. Selain itu di Desa Mainko, Toili, Ratuleme di Kecamatan Poso Pesisir dan beberapa lokasi lainnya termasuk Kecamatan Poso Kota, Kayamanya, Sayo, dan Lawanga. Hampir semua bangunan di tempat ini musnah terbakar dan ditinggalkan pemiliknya.
Dalam peristiwa ini delapan orang tersangka ditahan di Mapolda Sulteng. Tiga di antaraya yakni Yen (25), Raf (20), dan Leo (21). Mereka diduga sebagai provokator dan pemimpin kelompok aksi. Sementara lima orang lainnya adalah pelaku lapangan yang ditahan di Polres Poso.
Kamis (10/8), tiga tersangka kasus Kerusuhan Poso Mei 2000: Cornelius Fabianus Tibo, Dominggus Soares, dan Marinus Riwu dibekuk. Namun mereka langsung buka mulut. Ketiganya menyebut lima nama atasan yang menjadi otak kerusuhan. Kelima atasan yang mereka panggil "jenderal" itu berperan sebagai aktor intelektual di balik kerusuhan yang menyebabkan sedikitnya [menurut hitungan terakhir] 246 orang tewas dan puluhan ribu warga mengungsi dari Kabupaten Poso.
Menurut Tibo, para "jenderal" itulah yang merencanakan pembantaian warga dan pembumihangusan rumah-rumah penduduk pada lima kecamatan di Kabupaten Poso. Sementara Soares mengaku telah memimpin 51 orang untuk menyerang Kelurahan Sayo, Kecamatan Poso Kota. Dia juga mengaku membakari rumah penduduk, namun membantah aksinya mengakibatkan korban jiwa.
Ketiga tersangka juga mengaku tak mengetahui peristiwa pembantaian di Pondok Pesantren Walisongo (sekitar 9 kilometer arah selatan Kota Poso). Sayang mereka tak bisa berkelit. Sebab sejumlah saksi menegaskan bahwa ketiganya memimpin sendiri pembantaian sekitar 100 nyawa santri.
Insiden berdarah di Poso adalah luka lama bangsa ini. Ironisnya, hanya agama yang dijadikan senjata untuk saling mengambil nyawa. Selain Tibo, Soares, dan Riwu, siapa lagi yang mesti bertanggung jawab?(BMI)
Cornelius Fabianus Tibo menjadi semakin terkenal. Pemimpin pasukan kelompok Kelelawar Hitam itu bakal menjalani hukuman mati. Dia dituduh biang Kerusuhan Poso Mei-Juni tahun silam. Dalam peristiwa kerusuhan konflik horisontal bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan itu, Tibo melakukan kesalahan besar. Dia bersama Dominggus da Silva dan Marinus Riwu telah menjadi otak kematian ratusan orang dan pembakaran ribuan bangunan milik warga.
Ada dugaan, Tibo bukanlah otak sebenarnya dalam pembunuhan massal tadi. Pria lulusan sekolah dasar itu hanya kambing hitam dari pelaku utama, konseptor pembantaian ratusan umat beragama Islam. Sebab menurut kenyataan di lapangan, pembunuhan itu begitu rapi dan seolah didukung dana yang tak sedikit. Padahal, itu tak mungkin dilakukan Tibo, yang sehari-hari hanya bekerja sebagai kuli pemanjat kopra. Tibo tak membantah tuduhan. Namun dia juga tak tahan menyimpan ihwal ke-16 orang "kawan seperjuangan" lain.
Kerusuhan ala Tibo dan kawan-kawan bukanlah barang baru yang mengejutkan di kabupaten dengan luas 28.013,50 kilometer persegi itu. Pasalnya, insiden serupa sempat bergolak di daerah penghasil kelapa di penghujung tahun 1998. Akibatnya, petugas keamanan menutup semua pintu masuk dan keluar Poso. Alasannya supaya massa dari luar Poso tak ikut masuk dari berbagai arah menuju ibu kota kabupaten yang terletak sekitar 230 kilometer dari Kota Palu itu.
Puncak kerusuhan terjadi pada Senin (28/12). Bentrokan itu melibatkan sekitar 8.000 massa dalam bentrokan fisik. Sedikitnya 55 bangunan rusak dan sekitar 79 orang terluka, terkena lemparan benda keras. Selain itu, tujuh buah sepeda motor dan empat mobil dikabarkan hangus ikut dibakar massa. Dalam bentrokan itu, petugas keamanan tak mampu membendung amukan massa. Maklum, jumlah personel tak sebanding dengan jumlah massa. Tiga dari puluhan kelurahan di Poso: Kelurahan Kasintuwu, Lombogia, dan Sayo, menjadi pusat kerusuhan. Hingga keesokan hari, Kota Poso masih dikuasai massa, terutama ribuan yang berasal dari luar kota sebelah timur dan barat. Sementara massa dari Tentana yang memicu kerusuhan sehari sebelumnya sudah didesak mundur.
Menurut keterangan penduduk setempat, kerusuhan dipicu oleh kedatangan massa sebanyak tiga truk dari Tentena yang dipimpin Herman Parimo, tokoh Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah. Padahal sehari sebelumnya sudah ditandatangani kesepakatan antara tokoh agama Islam dan Kristen, dan tokoh pemuda untuk saling menahan diri.
Di beberapa tempat di dalam kota, kobaran api dan asap tebal dari puing-puing kebakaran tampak di sejumlah wilayah. Toko, pasar, kantor instansi pemerintah dan swasta, serta sekolah, masih tutup. Ribuan orang yang terkonsentrasi pada setiap kelurahan, mempersenjatai diri dengan tombak, parang panjang, atau samurai. Mereka berjaga-jaga di hampir setiap sudut jalan dengan barikade drum serta palang kayu. Setiap kendaraan yang lewat harus diperiksa. Untunglah tak satu pun rumah ibadah, baik gereja atau masjid dan kantor instansi pemerintah yang dirusak massa.
Rabu, 30 Desember 1998, dibentuklah kesepakatan untuk mengatasi situasi genting di Kota Poso. Keputusan itu dihasilkan dalam pertemuan ke sekian kali pada hari Selasa sebelumnya antara Musyawarah Pimpinan Daerah Poso dan Muspida Sulteng dengan sejumlah tokoh agama, masyarakat Poso, dan daerah sekitarnya, termasuk pendatang dari luar kota. Dalam pertemuan itu, setiap warga diminta menahan diri dan mafhum bahwa ada orang yang sengaja mengarahkan persoalan ke masalah pertentangan agama. Herman Parimo, yang dianggap dalang kerusuhan diminta segera dibekuk. Poso kembali tenang.
Menjelang pertengahan April 2000, Poso digoyang lagi. Dalam peristiwa itu, dua warga dilaporkan tewas dan sedikitnya 11 orang luka parah akibat kerusuhan di Kecamatan Tojo, sekitar 12 kilometer arah timur laut Kota Poso. Insiden bermula dari aksi saling serang antara sekelompok massa dari Desa Batugencu dan Desa Sepe (Kecamatan Lage) dengan warga Desa Toyado (Kecamatan Tojo), sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Sayang, ihwal kejadian masih samar. Pertikaian berlangsung hingga petang hari. Warga dari kedua kubu saling menyerang dengan senjata rakitan dan panah berjarak hanya 30-an meter.
Namun kedamaian hanya berlangsung sesaat. Sebab seperti kasus sebelumnya, Kota Poso kembali diblokir perusuh. Korban yang berjatuhan kali ini tak tanggung-tanggung. Menurut data resmi yang disampaikan Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayor Jenderal TNI AD Slamet Kirbiantoro, kala itu, korban tewas berjumlah 112 jiwa. Termasuk ribuan warga luka-luka dan ratusan bangunan terbakar. Penduduk yang masih tersisa di Poso pun tinggal sekitar delapan persen (sekitar 3.200 jiwa) dari 41.000 jiwa penduduk Kecamatan Poso Kota. Tercatat sekitar 7.000 orang mengungsi di Markas Kompi Senapan B/711, 2.500 orang di Markas Kodim, dan sebagian besar mengungsi ke luar kabupaten.
Korban tewas terbanyak ditemukan di beberapa titik parah lokasi bentrokan. Di antaranya Desa Batugiuncu, Sepe, Silanca, di Kecamatan Lage. Selain itu di Desa Mainko, Toili, Ratuleme di Kecamatan Poso Pesisir dan beberapa lokasi lainnya termasuk Kecamatan Poso Kota, Kayamanya, Sayo, dan Lawanga. Hampir semua bangunan di tempat ini musnah terbakar dan ditinggalkan pemiliknya.
Dalam peristiwa ini delapan orang tersangka ditahan di Mapolda Sulteng. Tiga di antaraya yakni Yen (25), Raf (20), dan Leo (21). Mereka diduga sebagai provokator dan pemimpin kelompok aksi. Sementara lima orang lainnya adalah pelaku lapangan yang ditahan di Polres Poso.
Kamis (10/8), tiga tersangka kasus Kerusuhan Poso Mei 2000: Cornelius Fabianus Tibo, Dominggus Soares, dan Marinus Riwu dibekuk. Namun mereka langsung buka mulut. Ketiganya menyebut lima nama atasan yang menjadi otak kerusuhan. Kelima atasan yang mereka panggil "jenderal" itu berperan sebagai aktor intelektual di balik kerusuhan yang menyebabkan sedikitnya [menurut hitungan terakhir] 246 orang tewas dan puluhan ribu warga mengungsi dari Kabupaten Poso.
Menurut Tibo, para "jenderal" itulah yang merencanakan pembantaian warga dan pembumihangusan rumah-rumah penduduk pada lima kecamatan di Kabupaten Poso. Sementara Soares mengaku telah memimpin 51 orang untuk menyerang Kelurahan Sayo, Kecamatan Poso Kota. Dia juga mengaku membakari rumah penduduk, namun membantah aksinya mengakibatkan korban jiwa.
Ketiga tersangka juga mengaku tak mengetahui peristiwa pembantaian di Pondok Pesantren Walisongo (sekitar 9 kilometer arah selatan Kota Poso). Sayang mereka tak bisa berkelit. Sebab sejumlah saksi menegaskan bahwa ketiganya memimpin sendiri pembantaian sekitar 100 nyawa santri.
Insiden berdarah di Poso adalah luka lama bangsa ini. Ironisnya, hanya agama yang dijadikan senjata untuk saling mengambil nyawa. Selain Tibo, Soares, dan Riwu, siapa lagi yang mesti bertanggung jawab?(BMI)