Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, konflik di Nanggroe Aceh Darussalam tidak dapat dituntaskan hanya dengan aksi militer. Menurut Yudhoyono, kekuatan senjata atau kekerasan hanya akan memperpanjang konflik dan menimbulkan korban jiwa. Pernyataan ini disampaikan SBY di depan peserta Musyawarah Nasional Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada di Jakarta, Jumat (22/7).
Yudhoyono bertekad menyelesaikan kasus Aceh dengan cara musyawarah melalui pendekatan sosial, budaya, dan keagamaan. Menurut Presiden, keputusan ini diambil berdasarkan pengalaman sebelumnya. "Menyelesaikan masalah Aceh hanya dengan hard power sudah kita coba 30 tahun, ternyata belum memecahkan masalah," kata mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ini. Pemerintah juga berupaya menyelesaikan kemelut di Aceh melalui kesepakatan damai yang akan diparaf di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus nanti [baca: Rakor Polkam Membahas Perjanjian Damai RI-GAM].(DNP/Miko Toro dan Anto Susanto)
Yudhoyono bertekad menyelesaikan kasus Aceh dengan cara musyawarah melalui pendekatan sosial, budaya, dan keagamaan. Menurut Presiden, keputusan ini diambil berdasarkan pengalaman sebelumnya. "Menyelesaikan masalah Aceh hanya dengan hard power sudah kita coba 30 tahun, ternyata belum memecahkan masalah," kata mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan ini. Pemerintah juga berupaya menyelesaikan kemelut di Aceh melalui kesepakatan damai yang akan diparaf di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus nanti [baca: Rakor Polkam Membahas Perjanjian Damai RI-GAM].(DNP/Miko Toro dan Anto Susanto)